oleh

Refleksi Hardiknas : ​EDUCERE :–Menuntun Keluar atau Menjinakkan?

Namun lihatlah kita hari ini. Di tengah deru teknologi yang kian cepat, sekolah sering kali berubah menjadi pabrik.

Kita mendidik anak-anak untuk menjadi efisien, produktif, dan menjadi sekrup yang patuh dalam mesin besar ekonomi. Kita melupakan satu hal: “manusia bukan sekadar alat.”

​Ada yang hilang ketika pendidikan hanya dikejar sebagai statistik. Kita mungkin berhasil menaikkan “angka literasi,” tapi apakah kita berhasil menanamkan kecintaan pada kebenaran?

Baca Juga  RUU Kepulauan dan Potensi Disintegrasi di Negara Kepulauan

Kita punya ribuan sarjana, tapi apakah kita punya cukup manusia yang berani berdiri tegak ketika ketidakadilan terjadi di depan mata?

​Pendidikan yang sejati adalah sebuah “perjumpaan”—perjumpaan antara rasa ingin tahu seorang murid dengan kearifan seorang guru. Dan dalam perjumpaan itu, tidak boleh ada paksaan.

Guru yang baik bukanlah ia yang memberikan kunci jawaban, melainkan ia yang berani “membiarkan” muridnya tersesat sebentar di dalam rimba pemikiran, agar sang murid tahu bagaimana cara menemukan jalan pulang dengan kakinya sendiri.

Baca Juga  Potret Politik Anggaran Gubernur Sherly di Wilayah Agraris-Maritim

​Barangkali, Hardiknas kali ini adalah saat bagi kita untuk menanggalkan segala atribut yang berisik itu. Kembali ke “inti yang paling sunyi”: bahwa belajar adalah proses merawat nyala lilin di tengah badai.

Ia kecil, ia lirih, dan ia sering kali tampak rapuh. Namun, dalam keremangannya, ia adalah satu-satunya yang bisa menjaga kita agar tidak benar-benar buta.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *