oleh

NYAWA DALAM KATA : (Diplomasi Identitas dan Kepulangan Lidah Leluhur)

Riset sosiolinguistik sering mengingatkan kita pada fenomena “epistemicide”-pembunuhan pengetahuan.

Saat bahasa daerah mati, hilang pula cara unik manusia dalam memahami alam dan moralitas.

​Maka, kebijakan memasukkan bahasa Tidore ke dalam kurikulum dan ruang kantor adalah sebuah rekayasa sosial yang cerdas. Ia adalah upaya memutus rantai kepunahan pengetahuan.

Secara nalar, ini adalah investasi pada “modal budaya” (cultural capital). Seorang anak yang teguh dengan identitasnya akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri di kancah global.

Baca Juga  DI ANTARA GURU DAN MURID PENDIDIKAN YANG SALING MEMBASKAN

Ia tidak akan menjadi “peniru yang canggung”, melainkan menjadi “kontributor yang unik”.

-000-

​Namun, mari kita letakkan angka-angka dan teori itu sejenak. Mari kita bicara dengan hati.

​Bahasa daerah adalah “bahasa rasa.” Ada frekuensi emosional dalam bahasa Tidore yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh bahasa Indonesia yang formal maupun bahasa Inggris yang “kosmopolit.”

Baca Juga  Obituary: KESUNYIAN DI MENARA GADING

Ada nuansa “adab,” ada getaran penghormatan, dan ada kehangatan kekeluargaan yang hanya bisa dirasakan ketika lidah mengucapkan dialek ibu.

​Bayangkan ruang-ruang kelas di mana anak-anak kita tidak lagi merasa asing dengan identitasnya.

Bayangkan kantor-kantor pemerintahan di mana pelayanan publik dilakukan dengan ruh persaudaraan asli Tidore.

Ini adalah upaya mengembalikan “rumah” ke dalam jiwa. Kita seringkali mengejar kemajuan hingga ke ujung dunia, namun seringkali pula kita lupa membawa “kunci rumah” kita sendiri.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *