Sesal dan kecewa adalah hal wajar ketika perpisahan datang tanpa diduga. Nasi sudah menjadi bubur. Tapi yang penting adalah bagaimana kita “membumbui” bubur itu agar tetap bisa dinikmati. Bukan dalam arti harfiah, melainkan dalam pengertian batin: menerima, belajar, dan melanjutkan hidup dengan kisah baru. Bisa jadi lebih tragis dari kisah nakhoda yang ditinggal penumpang saat kapal akan tenggelam. Bisa juga lebih spektakuler, jika kita memilih untuk tetap bertahan dan menjalankan peran.
Di sinilah letak ketangguhan sejati. Seorang stir man atau stir girl yang tetap memegang kemudi ketika kapal mulai miring bukanlah sekadar menunjukkan komitmen. Itu adalah konsistensi profesional yang berpegang pada etika dan moral. Itulah wujud kesetiaan yang sesungguhnya: tidak mengkhianati tugas, tidak meninggalkan rekan kerja saat sulit, tidak mencari enak sendiri.
Membangun kesetiaan—baik dalam pertemanan, kemitraan, maupun hubungan kerja—tidak pernah mudah. Ia menuntut pengorbanan, setidaknya berupa tenggang rasa. Batas toleransi memang berbeda-beda, tapi ketika tenggang rasa itu dipahami dan dibalas dengan komitmen untuk tidak mengulang kesalahan, maka hubungan bisa bertahan lama. Seperti pasangan suami istri yang melewati pesta perak, pesta emas, hingga senja kehidupan bersama.
Prinsip ini berlaku lebih luas. Kesetiaan bukan hanya syarat dalam pernikahan yang diikrarkan di altar atau KUA. Ia juga prasyarat dalam relasi antara bawahan dan atasan, antara warga dan negara. Di titik inilah nasionalisme diuji.














Komentar