oleh

Tatanan Dunia yang Kacau: Menakar Laku Spiritual sebagai Penyeimbang Rasio Politik

Sastra sebagai Ruang Latih Spiritualitas Publik
Fenomena menarik: puisi esai dan gelombang baru penyair sufi di Indonesia. Ini bukan romantisme. Dalam teori cultural resistance James C. Scott, sastra jadi hidden transcript—ruang publik alternatif saat politik resmi kacau.

Puisi spiritual adalah counter-narrative terhadap politik yang mabuk. Ia tawarkan elan vital baru: bukan indah-indahan, tapi misi profetik. Seperti Pujangga Baru 1940-an, hari ini penyair kembali jadi penjaga nurani kolektif. Mereka menyaksikan Tuhan pada “deburan ombak yang tiada lelah”, lalu mengubah kesaksian itu jadi kata, jadi laku.

Baca Juga  Tradisi Atau Budaya Halal Bi Halal Adalah Mutiara Hikmah Penuh Nilai Spiritual

Epilog : Dari Kepala di Bawah ke Kepala Pemerintahan

Metafora yogi yang bisa tidur sambil yoga, bahkan dengan kepala di bawah, adalah simbol: stabilitas tertinggi lahir dari pembalikan cara pandang. Dunia yang jungkir balik tak bisa dilawan dengan logika yang sama jungkir-baliknya. Perlu laku spiritual—tenang, sadar, berakar.

Maka agenda reformasi birokrasi, pemilu, kebijakan publik, tak cukup dengan good governance. Butuh soul governance. Sebab birokrat yang tak punya jeda spiritual akan mudah jadi mesin. Dan mesin tak punya nurani.

Baca Juga  *Memahami Berbagai Mazgab Untuk Memuluskan Jalan Mendekat Kepada Tuhan*

Tatanan dunia memang kacau. Tapi justru karena itu, masuklah ke dalam diri. Dari sana, lahir keputusan yang tak hanya cerdas, tapi juga waras.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *