Penonton Histeris, Larut dalam Heroisme
Kekuatan akting membawa penonton masuk ke lorong waktu. Azis Hasyim tampil total sebagai Sultan Babullah, sang anak yang menghimpun kekuatan perang mengusir Portugis setelah ayahnya, Sultan Khairun, dibunuh di Benteng Kastela. Lima tahun pengepungan, satu kemenangan telak Nusantara atas Eropa.
Asrul NL menghipnotis sebagai Sultan Nuku, Prince of Rebellion yang mengobrak-abrik politik devide et impera VOC dari laut ke hutan Tidore selama 25 tahun.
Syahrir Ibnu memecah tangis penonton saat memerankan detik-detik eksekusi Salahuddin Bin Talabuddin. Guru ngaji dari Weda itu ditembak 12 kali oleh kompeni Belanda tahun 1948. “Saya tak kuasa menahan tangis menyaksikan peran itu dengan sangat emosional,” aku salah satu penonton.
Nona Pakaya, penonton asal Gorontalo, mengaku takjub. “Saya berasal dari Gorontalo tapi sangat merasakan apa yang dirasakan para pejuang itu dari peran para aktor ini. Luar biasa,” katanya terharu.








Komentar