2.Sultan Nuku — Raja Gerilya, Pangeran Kemerdekaan
Dua abad setelah Babullah, langit Tidore kembali merah. VOC datang dengan kompeni, pajak, dan moncong meriam. Di istana, seorang bangsawan muda bernama Kaicil Nuku memilih jalan sunyi: angkat layar, tinggalkan tahta, masuk hutan, menyatu dengan gelombang.
Dua puluh lima tahun ia tak tidur nyenyak. Perahunya membelah malam, membakar kapal Belanda, merebut benteng, lalu hilang bersama kabut. Ia bersurat ke Inggris, berunding dengan Spanyol, tapi bersumpah hanya pada tanah Tidore.
“Lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup dijajah.”
Tahun 1801, ia pulang. Tidore direbut kembali. Rakyat menyambutnya bukan sebagai sultan, tapi sebagai Prince of Liberty. Sampai napas terakhir 1805, Nuku tak pernah menandatangani tunduk.
Ia mengajarkan: merdeka bukan hadiah. Merdeka adalah perang yang tak selesai.
—
3.Sultan Zainal Abidin Sjah — Mahkota yang Dilepas untuk Merah Putih
Tahun 1947, ketika Republik masih bayi dan Belanda merangkai Negara Indonesia Timur, seorang sultan muda di Tidore berdiri di persimpangan sejarah.
Zainal Abidin Sjah bisa saja nyaman dalam jubah kebesaran NIT. Tapi ia memilih gerilya. Ia sembunyikan pejuang, ia kirim pesan ke Yogyakarta, ia bisikkan ke rakyat: “Kita Indonesia.”
Tahun 1950, ia bubarkan NIT di wilayahnya sendiri. Mahkota feodal ia tanggalkan, lalu ia tunduk pada satu mahkota: Merah Putih. Soekarno mempercayainya jadi Gubernur Irian Barat pertama.








Komentar