oleh

Pencitraan Palsu Adalah Sikap dan Sifat Yang Sombong dan Bodoh

Jadi, ijazah palsu, janji palsu penampilan palsu yang dibungkus pencitraan sungguh berbahaya, bukan saja untuk orang lain, tapi juga bisa lebih mencelakai diri sendiri.

Oleh karena itu, pilihan untuk meniti alur spiritual dari perjalanan hidup ini adalah pilihan jenial agar tidak terjebak dan terperosok dalam kubangan materialisme yang jauh dari sifat dan sikap spiritualisme semacam ideologi alternatif baru untuk mengatasi prilaku mabuk kepayang terhadap harta dan kekayaan yang terlanjur membius, seakan-akan dapat menjadi garansi kebahagiaan di dunia, apalagi bila percaya setelah hidup di dunia kelak akan berada di akherat yang kekal.

Baca Juga  ZAKAT DALAM JENDELA SOSIOLOGI -- ‎Antara Kewajiban Langit dan Keadilan Bumi

Pencitraan yang berlebihan pun acap bisa dilihat dalam melakukan ibadhah agak berlebihan dan norak yang cenderung untuk dipertontonkan kepada banyak orang agar memperoleh kesan religius dan sebagai sosok yang taat menunaikan tuntutan dan ajaran agama. Padahal realisasi dari ibadhah yang harus diamalkan itulah yang patut dirasakan oleh orang lain manfaat dan mudharatnya. Jadi bukan sensasi dari pelaksanaan ibadhah yang lebih bersifat pribadi itu, karena tujuan utama dari ibadhah atau sholat itu adalah untuk memperbaiki cara hidup hingga pilihan sikap dalam bertindak demi dan untuk kebaikan diri sendiri yang dapat dinikmati juga oleh orang lain.

Baca Juga  NARASI PERANG AGAMA MELAWAN IRAN

Artinya, dari pelaksanaan ibadhah hingga sholat yang dilakukan itu, perlu ditilik – dievakuasi – manfaatnya bukan hanya untuk diri pribadi. Sebab amal ibadhah manusia yang dapat memberi manfaat lebih banyak bagi orang lain adalah wujud ibadhah yang terbaik untuk dilakukan, tanpa perlu sensasi dan perhatian dari pihak msnapun. Karena ibadah maupun sholat itu sesungguhnya tidak baik untuk dijadikan bagian dari pencitraan diri. Apalagi, bila sjolat dan ibadhah itu tidak bisa dijadikan upaya untuk memperbaiki karakter, sikap, perilaku hingga perangai diri yang selalu merasa lebih unggul dan lebih baik dari orang lain.

Baca Juga  Menjaga Sikap dan Sifat Konsisten Dengan Laku Spiritual

Budaya pencitraan diri yang telah merusak dan merasuk dalam wilayah agama – seperti umroh berulang kali atau ziarah spuritual ke berbagai tempat yang tak lebih dari kunjungan wisata semata itu – terkesan telah menjadi trend atau model prilaku snob akibat tekanan psikologis yang lebih bersifat materialistis, bukan psikologis spiritualistis.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *