Penulis menangkap bahwa guncangan pertama ini adalah “gempa kesadaran”, di mana realitas virtual seolah-olah lebih nyata daripada ancaman kematian yang ada di depan mata.
Namun, kekuatan utama tulisan Anwar Husen terletak pada keberaniannya menyandingkan hukum alam dengan hukum kebijakan.
Ia memperkenalkan konsep “gempa kedua”, yakni guncangan pada landasan logika berpikir para pemimpin bangsa.
Di sini, Husen tidak lagi bicara soal “seismograf,” melainkan soal keadilan sosial. Ia menyoroti bagaimana kebijakan pusat sering kali mendarat di daerah seperti Maluku Utara tanpa melewati proses penyaringan realitas lokal.
–000-
Salah satu poin yang paling tajam esai Anwar Husen, menurut saya adalah kritik terhadap kebijakan “seragam” yang sering diambil Jakarta.
Penulis mencontohkan bagaimana kebijakan penghematan energi atau pola kerja jarak jauh (WFH) sering kali dipukul rata, tanpa melihat bahwa infrastruktur dan denyut ekonomi di Maluku Utara tidak bisa disamakan dengan Jakarta.
Bagi masyarakat di pinggiran, kebijakan yang tidak kontekstual ini adalah “gempa” administratif yang menghancurkan struktur ekonomi kecil lebih cepat daripada getaran bumi itu sendiri.
Ini adalah kritik pedas terhadap sentralisme yang masih akut, di mana daerah dianggap sebagai objek eksperimen kebijakan yang jauh dari kebutuhan nyata.
Lebih dalam lagi, Husen menyentuh luka lama mengenai ketimpangan pembangunan.








Komentar