Ia mengingatkan kita bahwa gempa tektonik hanyalah pemicu yang menyingkap kerapuhan yang sudah ada sebelumnya.
Rumah yang roboh, anak-anak dengan gizi buruk yang semakin rentan di pengungsian, serta akses kesehatan yang sulit, adalah manifestasi dari “gempa kebijakan” yang telah terjadi bertahun-tahun sebelum tanggal 2 April itu tiba.
Penulis seolah ingin berteriak bahwa kita tidak boleh terus-menerus mengkambinghitamkan takdir alam atas penderitaan rakyat, sementara kita menutup mata terhadap “cacat logika” dalam tata kelola negara.
–000–
Pada akhirnya, esai Anwar Husen adalah sebuah gugatan terhadap “kewarasan kolektif” kita.
Ia menutup narasinya dengan sebuah pesan yang sangat filosofis sekaligus praktis: gempa bumi adalah ketetapan Tuhan yang bisa kita pelajari mitigasinya, namun “gempa kebijakan” adalah kesalahan manusia yang harus dihentikan.
Membaca respon Anwar Husen atas bencana di Maluku Utara ini membuat kita tersadar bahwa pemulihan pasca-gempa tidak cukup hanya dengan membangun kembali beton-beton yang retak.
Pemulihan yang sesungguhnya harus dimulai dari rekonstruksi nalar kebijakan yang lebih empatik, kontekstual, dan berpihak pada keadilan.
Jika tidak, bangsa ini akan terus-menerus hidup di bawah ancaman reruntuhan; bukan karena guncangan kerak bumi, melainkan karena rapuhnya fondasi pemikiran para pengelolanya.
Kakibata, 3 April 2026
Pukul : 09.10








Komentar