2. Reduksionisme: Manusia Bukan Sekadar Sekrup
Namun, ada bahaya laten di sini. Ketika pemerintah menggunakan kacamata “Relevansi Industri” sebagai satu-satunya ukuran, kita sedang terjebak dalam reduksionisme.
Manusia bukan sekadar sekrup dalam mesin ekonomi. Pendidikan bukan sekadar pelatihan kerja (job training).
Jika ilmu sosial dimatikan hanya karena dianggap tidak menghasilkan devisa instan, kita sedang mengubur kemampuan bangsa untuk berpikir kritis.
3. Hilangnya Polisi Moral Pembangunan
Apa jadinya sebuah negara yang penuh dengan teknokrat, tapi sepi dari sosiolog dan budayawan?
Kita akan memiliki jembatan-jembatan megah, tapi kehilangan kemampuan untuk mendamaikan konflik sosial.
Kita akan punya teknologi canggih, tapi gagap bicara soal etika. Ilmu sosial adalah “radar moral” pembangunan.
Mematikannya demi efisiensi ekonomi adalah sebuah perjudian peradaban yang amat mahal harganya.
4. Ancaman Ketimpangan Baru
Kita tahu, prodi sosial sering kali menjadi pelarian terakhir bagi anak-anak dari ekonomi lemah karena biayanya yang terjangkau.
Jika prodi-prodi ini ditutup dan hanya menyisakan prodi STEM yang mahal, maka pendidikan tinggi akan kembali menjadi barang mewah milik elit.










Komentar