oleh

Obituary: KESUNYIAN DI MENARA GADING

Sebagai Menteri Pertahanan sipil pertama di era reformasi, ia menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada moncong senjata, melainkan pada supremasi ide dan kekuatan diplomasi yang santun.

​Di ruang-ruang kuliah Universitas Indonesia, ia adalah oase bagi para pencari ilmu. Bagi mahasiswanya, kuliah Prof. Yuwono bukan sekadar transfer teori Hubungan Internasional yang rumit.

Beliau mengajarkan sesuatu yang jauh lebih fundamental: etika. Di tangannya, politik tidak lagi menjadi seni tentang “siapa mendapat apa”, melainkan sebuah pengabdian tentang “bagaimana martabat bangsa dijaga”.

Ia seringkali terlihat berjalan kaki di selasar kampus dengan tas jinjingnya yang sederhana, menyapa mahasiswa dengan senyum yang tulus—sebuah pemandangan yang mengingatkan kita bahwa intelektualitas sejati selalu berbanding lurus dengan kerendahan hati.

Baca Juga  Pembicaraan Deadlock, Amerika Siap-Siap Serang Iran Dengan Kekuatan Terbesarnya

–000–

​Ada sebuah asketisme yang melekat erat pada dirinya. Di tengah gaya hidup pejabat yang seringkali gemerlap, Prof. Yuwono tetap menjadi pribadi yang “selesai” dengan dirinya sendiri.

Ia tidak mengejar panggung, tidak haus akan pengakuan, dan sama sekali tidak tergiur oleh akumulasi materi. Kekayaan sesungguhnya bagi beliau adalah tumpukan buku, ketajaman analisis, dan kehormatan yang tidak bisa dibeli.

Ia membuktikan sebuah tesis langka: bahwa seseorang bisa berada di puncak kekuasaan tanpa harus kehilangan jiwanya.

​Kepergiannya meninggalkan lubang besar yang sulit ditambal. Kita kehilangan seorang kompas moral di saat bangsa ini seringkali kehilangan arah dalam labirin kepentingan.

Baca Juga  AROGANSI TRUMP, PEMBUNUHAN KHAMENEI, DAN DINAMIKA TIMTENG

Namun, mengenang Yuwono Sudarsono bukanlah tentang meratapi kehilangan, melainkan tentang merayakan sebuah teladan.

Ia telah mewariskan sebuah standar tinggi tentang bagaimana menjadi seorang intelektual-publik: seseorang yang berani berbicara kebenaran di depan kekuasaan (speaking truth to power), namun tetap melakukannya dengan bahasa yang memanusiakan manusia.

–000–

Akhir​nya, mengenang Yuwono Sudarsono adalah merenungkan kembali apa artinya menjadi seorang *scholar-statesman.”

Ia membuktikan bahwa intelektualitas tidak harus membuat seseorang menjadi sombong, dan kekuasaan tidak harus membuat seseorang menjadi korup.

Beliau telah menjadi jembatan antara dunia “ide yang abstrak” dan realitas politik yang keras, tanpa pernah sekalipun membiarkan kakinya tergelincir ke dalam lumpur oportunisme.

Baca Juga  MAITARA: ANTARA IMAGINASI DAN REALITAS

​Kini, sang begawan telah beristirahat. Ia meninggalkan kita di tengah dunia yang semakin bising oleh klaim-klaim kebenaran sepihak.

Namun, jejak kepemimpinannya yang teduh akan tetap menjadi kompas bagi generasi mendatang. Ia telah menunjukkan bahwa cara terbaik untuk mencintai negara ini bukanlah dengan menguasainya, melainkan dengan melayaninya dalam kesunyian yang jujur.

​Selamat jalan, Prof. Yuwono. Di balik kesunyian kepergianmu, ada gemuruh doa dan rasa hormat yang tak akan pernah usai dari bangsa yang pernah kau jaga martabatnya. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *