Al-quran Sebagai “operating system” Manusia Modern
Di era perkembangan teknologi ini, bisa kita membayangkan Bahwa Al-quran sebagai operating System bagi akal manusia. Hal ini bisa kaitkan bahwa otak manusia sebagai perangkat kerasnya, maka wahyu adalah kode-kode logika yang akan menuntun manusia agar tidak mengalami yang yang namanya system crash (kerusakan sistem) dimana kondisi sistem operasi lunak (memori,pola pikir) terhenti secara tidak normal atau Freeze (membeku), akibat dari banjirnya berita hoaks yang keseringan dikonsumsi. Bahkan, diterangkan oleh Ali Maksum juga di tengah kondisi gelombang sangat pesat ini pula pentingnya integrasi antara ilmu pengetahuan dan teknologi dan iman dan taqwa sebagai kesatuan yang tak boleh dipisahkan.
Ditengah terpaan teknologi tanpa tuntunan wahyu akan menjadi alat destruktif bagi manusia. Dalam konteks ini, Fenomena Kecerdasan Buatan (AI) yang mampu menciptakan sebuah deepfake (manipulasi realitas visual) yang menyebar sangat cepat, hal ini juga bisa ditangkal dengan integrasi moral yang bersumber dari Al-quran. Sebagai muslim yang intelek, kita memerlukan “kecerdasan spiritual” agar bisa membedakan dimana realitas yang orisinal dan mana simuliasi semu yang bersifat menipu.
Sinkronisasi Antara Wahyu dan fenomena semesta
Di era post truth, suatu kebenaran seringkali dianggap relatif tergantung pada siapa yang memiliki suara yang paling keras di media sosial ataupun siap yang paling “viral” di media sosial, hal ini yang menjadikan suatu kebenaran ditakar dari sisi viralitas suatu informasi atau tren. Al-quran sebagai the Ultimate truth (Kebenaran Mutlak/Puncak) yang dianggap sebagai suatu keberanaran yang bersifat mutlak dari sang ilahi tanpa ada keraguan sedikitpun. Hal ini menegaskan bahwa Al-quran tidak terpengaruh oleh tren algoritma atau kepentingan politik jangka pendek yang bersifat semu. Tentunya sebagai muslim yang literat seharusnya mampu dalam menjelaskan antara sesuatu yang orisinil dan fakta ilmiah.











Komentar