oleh

IRAN, “BATU SANDUNGAN” BERAT BUAT DINASTI ROTHSCHILD

Ingat tahun 2000 dulu? Ada sekitar 9 negara yang nggak ikut sistem bank sentral Rothschild: Iran, Irak, Kuba, Suriah, Libya, Sudan, Venezuela, Afghanistan, dan Korea Utara. Coba lo liat sekarang, nasib mereka gimana? Irak, Afghanistan, Libya, Suriah udah hancur. Venezuela lagi diperas. Tinggal Iran dan Korea Utara yang masih bertahan. Korea Utara karena mereka punya bom nuklir dan dekat China. Iran karena mereka punya perlawanan ideologis yang kuat.

2. Iran Punya Minyak dan Posisi Strategis
Iran punya cadangan minyak terbesar ketiga di dunia. Tapi yang bikin mereka kuat bukan cuma itu. Mereka juga jadi pemasok minyak utama China, rival Amerika. Jadi kalau AS bisa kuasai Iran, mereka bisa:

· Potong jalur pasokan energi ke China.
· Kuasai harga minyak dunia.
· Kendalikan OPEC sepenuhnya.

Belum lagi Selat Hormuz. Sekitar 20% minyak dunia lewat selat ini. Lo bayangin kalau Iran nutup total? Harga minyak bisa tembus $200 per barel. Ekonomi dunia kacau. Inilah senjata pamungkas Iran.

Update Terbaru (Maret 2026): Menlu Iran, Abbas Araghchi, baru aja ngasih pernyataan tegas soal Selat Hormuz. Katanya:

“Selat Hormuz itu terbuka. Tapi hanya ditutup untuk kapal tanker dan kapal milik musuh kita, yang menyerang kita dan sekutunya. Yang lain bebas lewat.”

Artinya: Kapal AS dan Israel dilarang keras. Kapal China, India, Pakistan, Turki, Rusia? Silakan, asal minta izin dulu. Ini strategi jitu. Mereka nggak nutup total biar nggak dianggap biang kerok, tapi mereka kontrol siapa yang boleh lewat. Jadi de facto, AS dan Israel kehilangan akses ke jalur energi paling vital di dunia.

Baca Juga  Diplomasi Spiritual Untuk Kemaslahatan Seluruh Umat Manusia di Bumi

Bahkan ada kabar, Iran lagi mempertimbangkan transaksi minyak pake Yuan China buat gantikan Dolar AS. Ini tantangan langsung buat sistem Petrodolar yang udah berkuasa puluhan tahun. Kalau ini terjadi, dominasi Dolar AS di perdagangan minyak global bakal goyah.

3. Isu Nuklir: Alasan Klasik yang Diulang-ulang

AS dan Israel terus-terusan teriak, “Iran mau bikin bom nuklir! Mereka ancam dunia!” Padahal, ini kebohongan besar yang diulang terus.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, baru aja ngomong tegas:

“Mengulang kebohongan cukup sering akan membuatnya tampak sebagai kebenaran’—itu adalah hukum propaganda yang dicetuskan oleh Nazi Joseph Goebbels. Ini sekarang secara sistematis digunakan oleh pemerintahan AS dan para pencari keuntungan perang di sekelilingnya, khususnya rezim Israel yang genosidal.”

Mereka tuduh Iran kembangkan senjata pemusnah massal? Ingat Irak 2003! Netanyahu berdiri di depan Kongres AS, pamer gambar “pabrik senjata nuklir” Irak. Hasilnya? Irak diinvasi, ratusan ribu orang mati, dan nggak ada satu pun senjata nuklir ditemukan.

Iran dari dulu bilang program nuklir mereka untuk tujuan damai: pembangkit listrik, medis, industri. Mereka bahkan punya fatwa dari Pemimpin Tertinggi (alm. Ali Khamenei) yang mengharamkan senjata nuklir. Tapi AS dan Israel tetap ngeyel. Kenapa? Karena alasan nuklir cuma kedok buat “regime change” (pergantian rezim).

Dan emang bener, target mereka adalah menggulingkan kepemimpinan Iran yang udah 47 tahun berdiri. Mereka pengen ganti dengan rezim baru yang pro-Barat, kayak jaman Reza Pahlavi dulu. Si “pangeran badut” yang tinggal di pengasingan itu udah siap-siap naik tahta. Tapi rakyat Iran udah pernah merasakan era Pahlavi yang pro-Barat, yang deket sama Israel, dan mereka nggak mau balik ke masa kelam itu.

Baca Juga  In Memoriam: Jenderal Try Sutrisno KESETIAAN DALAM SENYAP

Duta Besar Iran untuk Kuwait, Mohammad Totonchi, nulis analisis pedas soal ini:

“Yang diinginkan Barat adalah Iran yang tunduk pada entitas Zionis, beroperasi dalam orbit kepentingan mereka. Rezim Pahlavi dulu adalah salah satu sekutu terdekat Israel di kawasan. Kerja sama intelijen SAVAK-Mossad, pasok minyak ke Israel, semua terjadi. Kembali ke model era Pahlavi berarti menghidupkan kembali sistem timpang yang menempatkan kepentingan Israel di pusat.”

*PERANG NARASI: SYIAH BUKAN ISLAM? ITU SKRIP MOSSAD!*

Nah, yang sering banget terjadi di Indonesia, setiap Iran lagi konflik, tiba-tiba muncul narasi:

· “Ngapain dukung Syiah, mereka bukan Islam.”
· “Biarkan Iran dan Israel perang, keduanya kafir.”
· “Iran dan Israel itu bestie, cuma sandiwara.”
· “Iran lebih banyak bunuh muslim daripada Israel.”

Lo harus paham, Bos. Ini semua adalah skrip perang psikologis yang dimainkan Mossad dan CIA. Udah 40 tahun lebih narasi ini diputar. Setiap kali mau berkonflik sama Iran, isu ini dimunculin. Tujuannya: memecah belah umat Islam, mengisolasi Iran, dan memutus simpati dunia Islam.

🌍 *9/11, ISLAM TERORIS, DAN RENCANA 7 NEGARA DALAM 5 TAHUN*

Anda ingat tragedi 11 September 2001? 3.000 orang tewas. Yang menarik: nggak ada satu pun Yahudi yang mati di WTC hari itu. Dan gedung-gedung itu diasuransikan oleh perusahaan Yahudi nggak lama sebelum kejadian. Mereka dapat klaim miliaran dolar.

Setelah 9/11, tiba-tiba Islam jadi kambing hitam. “Islam adalah teroris.” Padahal pelakunya Al-Qaeda, yang dibentuk CIA dan didanai Arab Saudi buat lawan Soviet di Afghanistan. Pola lama: ciptakan monster, lalu lawan monster itu buat cuan.

Baca Juga  Menyelamatkan Pulau Halmahera dari Investasi Negara Zionis

Mantan Komandan NATO di Eropa, Jenderal Wesley Clark, pernah ngaku di Al-Jazeera (2003) bahwa setelah 9/11, dia dapat perintah dari elit global: “Dalam 5 tahun, kita harus menyerang 7 negara ini: Irak, Suriah, Lebanon, Libya, Somalia, Sudan, dan Iran.”

Dan lihatlah:
· Irak (2003): Hancur, pemimpinnya (Saddam) digantung.

· Libya (2011): Hancur, pemimpinnya (Gaddafi) dibunuh di got.

· Suriah: Hancur lewat perang saudara yang dimenangkan kelompok proxy Barat.

· Sudan: Pecah jadi dua negara.
· Lebanon: Masih carut-marut.
· Somalia: Negara gagal sampai sekarang.
· Iran (2026): Target terakhir.

Untuk kasus Suriah, mereka bahkan ciptakan ISIS sebagai alat untuk menghancurkan negara itu. Isinya campuran antara mantan intelijen Saddam, milisi asing, dan petualang. Setelah Suriah hancur, siapa yang jadi presiden? Abu Muhammad Jolani Al-Shara, tokoh yang tadinya dianggap “teroris”, sekarang jadi presiden yang “manis” dan “islami”, tapi ternyata patuh sama agenda Trump dan Israel. Polanya sama lagi: hancurkan, lalu pasang boneka baru.

*KEUNTUNGAN YANG DIINCAR KALAU IRAN JATUH*

Mereka udah hitung-hitungan, Kalau Iran berhasil ditaklukkan, keuntungannya gila-gilaan:

1. Perbankan Iran tunduk: Sistem keuangan Iran bakal masuk orbit Rothschild. IMF bakal kasih utang, bunga berbunga, dan Iran bakal terbelenggu selamanya.

2. Israel Raya mulus: Nggak ada lagi yang support Hizbullah, Hamas, atau poros perlawanan. Israel bisa ekspansi seenaknya.

3. Sumber daya alam digasak: Minyak, gas, emas, perak Iran bakal diprivatisasi. Perusahaan kayak Exxon, Chevron, Shell bakal masuk dan bagi-bagi kue.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *