Warisan terbesar seorang pejuang demokrasi bukanlah jabatan, bukan pula popularitas, melainkan jejak keberpihakan pada kebenaran. Dalam hal itu, Lubis telah menunaikan bagiannya.
Generasi setelahnya mungkin tidak mengalami langsung kerasnya represi Orde Baru. Namun nilai-nilai yang diperjuangkan Lubis tetap relevan: keberanian bersuara, kesetiaan pada nurani, dan keyakinan bahwa bangsa ini layak diperjuangkan tanpa lelah.
Kepergianmu begitu sunyi, tetapi jejakmu tak akan hilang. Dalam setiap upaya menjaga demokrasi tetap hidup, dalam setiap suara yang menolak ketidakadilan, di situ namamu akan selalu dikenang.
Selamat jalan, Pandapotan Lubis. Semoga Allah SWT menempatkanmu di tempat terbaik, bersama mereka yang sepanjang hidupnya berjuang untuk kebaikan.
Surga menantimu, sahabat. Dan kami yang ditinggalkan hanya bisa melanjutkan doa—serta perjuangan yang pernah kau nyalakan.***









Komentar