Pagi itu, sebuah pesan singkat datang dengan kabar yang terasa begitu menyesakkan: sahabat, rekan seperjuangan demokrasi, Pandapotan Lubis, telah berpulang. Waktu seakan berhenti sejenak. Sulit percaya bahwa sosok yang beberapa jam sebelumnya masih berkirim pesan, masih berdiskusi tentang kondisi bangsa, kini telah pergi untuk selamanya.
Kepergian Lubis bukan sekadar kehilangan personal bagi para sahabatnya, melainkan juga kehilangan bagi perjalanan panjang demokrasi Indonesia. Ia adalah bagian dari generasi yang memilih bersuara di saat banyak orang memilih diam. Di masa ketika kekuasaan Orde Baru berdiri kokoh dengan segala perangkat kontrolnya, Lubis tampil sebagai salah satu suara yang tak gentar.
Saya mengenalnya sejak masa-masa ketika menyampaikan kritik bisa berujung pada intimidasi, pembungkaman, bahkan ancaman keselamatan. Namun bagi Lubis, keberanian bukanlah pilihan heroik yang dramatis, melainkan sikap hidup yang dijalani dengan kesadaran penuh: bahwa kebenaran harus disuarakan, betapapun risikonya.
Di era Orde Baru, ruang kebebasan begitu sempit. Banyak aktivis bergerak dalam bayang-bayang, berbicara dengan bahasa simbol, dan menyusun langkah dengan sangat hati-hati. Lubis justru dikenal sebagai sosok yang lugas—tidak berputar-putar dalam menyampaikan kritik terhadap ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan.
Keberaniannya bukan tanpa konsekuensi. Tekanan, pengawasan, hingga stigma adalah bagian dari harga yang harus dibayar. Tetapi Lubis tetap berjalan di jalur yang ia yakini. Baginya, demokrasi bukan sekadar sistem politik, melainkan martabat manusia yang harus diperjuangkan.






Komentar