–000–
Maitara menjadi saksi bisu bagaimana cengkih dan pala mengubah peta dunia.
Namun, di sore hari yang tenang, sejarah terasa begitu jauh. Yang tersisa hanyalah dialog antara angin laut dan deru mesin perahu yang sesekali merapat.
Cahaya matahari yang mulai miring menyentuh puncak Maitara, mengubah warna hijaunya menjadi keemasan.
Ada kedamaian yang aneh saat melihat gunung itu dari Dermaga Rum—sebuah perasaan bahwa alam memiliki caranya sendiri untuk tetap abadi di tengah dunia yang terus berubah cepat.
Menatap Maitara dari Rum adalah sebuah perjalanan pulang menuju apresiasi yang sederhana.
Kita diingatkan bahwa keindahan yang selama ini kita simpan dalam bentuk mata uang hanyalah sekeping kecil dari kekayaan yang sebenarnya.
Realitas di dermaga ini, dengan aroma garamnya yang khas dan gradasi warna langitnya, adalah kekayaan yang tak bisa ditukar dengan nilai nominal apa pun.
Salam rindu untuk tanah dodomi…menyambut
bulan penuh cahaya. (***)














Komentar