oleh

MAITARA: ANTARA IMAGINASI DAN REALITAS

Bagi sebagian besar orang Indonesia. Gunung Maitara adalah sebuah bayangan yang akrab namun asing.

Ia hadir di saku celana, terselip di dompet, atau berpindah tangan dalam wujud lembaran uang seribu rupiah.Namun, berdiri langsung di atas papan kayu Dermaga Rum. Pulau Tidore memberikan sensasi yang jauh berbeda.

Di sana, Maitara bukan lagi sekadar gambar cetakan mesin, melainkan sebuah monumen alam yang megah, tegak berdiri di atas permukaan laut Maluku Utara yang biru pekat.

Baca Juga  Prabowo-Anies Dalam "Negative Correlation"

Dermaga Rum adalah gerbang pembuka. Sebagai titik labuh utama bagi perahu-perahu “speedboat” yang datang dari Ternate. Dermaga ini menawarkan sambutan visual yang dramatis.

Saat kaki pertama kali menapak di sana, mata akan langsung tertuju pada sebuah kerucut hijau sempurna yang muncul dari air.

Itulah Maitara. Pulau kecil yang meski tak seluas tetangganya, Tidore atau Ternate. Tapi memiliki karisma yang mampu menghentikan langkah siapa pun yang memandangnya.

Baca Juga  KEKAYAAN, TAMBANG, DAN KEGAGALAN POLITIK PEMBANGUNAN: MEMBACA KEPEMIMPINAN GUBERNUR SHERLY TJOANDA LAOS

Secara historis, perairan di sekitar Dermaga Rum dan Maitara bukan sekadar jalur transportasi biasa.

Ini adalah jalur purba perdagangan rempah dunia. Ratusan tahun lalu, kapal-kapal bangsa Eropa—Portugis, Spanyol, hingga Belanda—mungkin pernah membuang sauh/jangkar di koordinat yang sama.

Terpana oleh siluet gunung yang sama, meski dengan ambisi yang berbeda.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed