oleh

PELUIT YANG MENGIRIS HARAPAN DI GELORA BANDUNG LAUTAN API

Oleh : M.Guntur Alting

Di tanah Pasundan, mimpi-mimpi Laskar Kie Raha dibawa terbang.Datang jauh dari gugusan jazirah Al-Mulk, membawa semangat yang membara.

Namun di bawah sorotan lampu Stadion(GBLA) yang benderang. Ada sesuatu yang lebih tajam dari taktik, yang membuat langkah pincang.

Yudai Yamamoto berdiri dengan dada yang membusung. Namun di mata pencinta sepakbola, keadilan seperti sedang berkabung.

Baca Juga  NARASI PERANG AGAMA MELAWAN IRAN

Setiap sentuhan jadi pelanggaran yang membingungkan, seolah garis lapangan sengaja dibelokkan oleh kepentingan.

Satu serangan dibangun, keringat menetes di dahi. Namun peluit itu berbunyi, menghentikan mimpi yang murni.

Ada tangan yang beraroma menyentuh bola tapi dibiarkan, ada raga yang dijatuhkan namun dianggap sandiwara belaka.

Kekalahan ini bukan karena kaki yang letih berlari. Bukan pula karena strategi yang salah dipelajari.

Baca Juga  KETIKA NURANI MENJADI KOMPAS DI TENGAH BADAI ALGORITMA

Tapi karena pengadil yang seharusnya menjadi timbangan, justru menjadi pemain kedua belas yang menghancurkan perjuangan.

Sang Laskar Kie Raha pulang dengan luka yang menganga. Bukan sekadar poin yang hilang, tapi kepercayaan pada pernak- pernik laga.

Bahwa di lapangan hijau yang katanya penuh sportivitas, terkadang peluit bisa dibeli oleh takdir yang tak lagi ikhlas.

Baca Juga  Ketika Klaim Tanpa Sumber Menjadi Senjata — Menguji Etika Pers dalam Pemberitaan Tambang di Maluku Utara

–000-

Ketidakadilan di Bawah Peluit Sakura : Evaluasi Kritis Kepemimpinan Yudai Yamamoto

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *