oleh

Esai |Jejak Batin : MEMBASUH JIWA ANTARA GAMALAMA DAN LIMAU DUKO

Harmoni Selat dan Penantian Maghrib

Menjelang sore, suasana batin di kedua kota ini memuncak dalam sebuah fenomena sosial yang menyentuh.

Di pesisir Ternate (seperti di kawasan Swering), batin yang lelah setelah seharian menahan dahaga mulai melunak.

Menatap matahari yang perlahan tenggelam di balik punggung Pulau Maitara dan Tidore menciptakan rasa haru yang kolektif.

Baca Juga  Nuzulul Quran: Algoritma Iqra dalam Menangkal Disrupsi Post-Truth dengan Epistimologi Wahyu.

Ada momen reflektif yang kuat saat melihat perahu-perahu kecil membelah selat; sebuah analogi bagi batin manusia yang sedang menyeberangi lautan nafsu menuju tepian kemenangan.

Hari pertama di Ternate dan Tidore mengajarkan bahwa puasa adalah tentang menjaga keseimbangan—seperti dua pulau ini yang berdiri seimbang di tengah laut.

–000–

Pada akhirnya, esai batin di mengawali Ramadan di Ternate dan Tidore adalah tentang rekonsiliasi.

Baca Juga  Ketika Klaim Tanpa Sumber Menjadi Senjata — Menguji Etika Pers dalam Pemberitaan Tambang di Maluku Utara

Manusia berdamai dengan rasa laparnya, berdamai dengan alam gunung dan lautnya, serta yang paling utama, berdamai dengan Tuhannya.

Awal ramadhan, menjadi fondasi bagi hari-hari berikutnya, di mana setiap individu berharap batin mereka akan sekokoh batu hitam benteng-benteng tua yang tetap teguh meski dihantam zaman. Wallahu alam (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *