Trans Kie Raha: Infrastruktur Ekstraktif yang Dibungkus Retorika Pembangunan
Pembangunan jalan Trans Kie Raha, khususnya jalur Subaim–Ekor–Kobe, adalah contoh nyata dari gaya kepemimpinan kapitalis yang sedang berlangsung di Maluku Utara. Jalan ini dibangun dengan dalih konektivitas dan pemerataan pembangunan, namun jika ditelusuri lebih dalam, proyek ini lebih menyerupai “infrastructure of extraction” — infrastruktur yang dibangun untuk memfasilitasi ekstraksi sumber daya alam oleh korporasi tambang.
Jalan ini bukanlah jalan rakyat, melainkan jalan industri. Ia menghubungkan titik-titik strategis pertambangan, bukan desa-desa yang terisolasi. Ia memperlancar distribusi logistik korporasi, bukan akses pendidikan dan kesehatan masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan jalan Trans Kie Raha adalah bentuk nyata dari kebijakan yang lebih mengutamakan *maximum utility* bagi segelintir elite ekonomi, sebagaimana dijelaskan oleh teori utilitarianisme John Stuart Mill.
Rakyat dalam Bayang-Bayang Retorika
Gaya kepemimpinan kapitalis seringkali lihai membungkus kepentingan korporasi dengan narasi pembangunan. Rakyat digiring untuk percaya bahwa infrastruktur yang dibangun adalah untuk mereka, padahal sejatinya mereka hanya menjadi pelengkap penderita dalam skenario besar akumulasi modal. Jalan Trans Kie Raha dijual sebagai simbol kemajuan, padahal ia adalah koridor industri yang mengukuhkan dominasi oligarki tambang di Halmahera.
Kita tidak anti pembangunan. Kita tidak menolak infrastruktur. Tapi kita menolak pembangunan yang tidak berpihak pada rakyat. Kita menolak infrastruktur yang dibangun untuk memperkuat cengkeraman korporasi atas tanah dan sumber daya kita. Kita menolak gaya kepemimpinan yang menjadikan rakyat sebagai alat legitimasi bagi kepentingan kapital.






Komentar