Memang realisme politik Trump untuk menahan kemerosotan AS merupakan presden yang mengancam tatanan internasional. Di pihak lain, survival rezim Iran merupakan kepentingan strategis Rusia dan Cina. Iran merupakan buffer zone bagi Rusia yang mengunci negara-negara Asia Tengah yang menjadi sphere of influence Rusia. Setelah pertemuan Paris antara AS dan UE, 8 Januari, yang menghasilkan kesepakatan jaminan keamanan bagi Ukraina, posisi strategis Iran makin penting. Kesepakatan itu menjamin keamanan Ukraina pasca perang yang syaratnya tidak sepenuhnya diterima Putin.
Terlebih, Trump setuju ikut menempatkan pasukan AS di Ukraina sebagai deterrence yang nyaris identik dengan keanggotaan Ukraina dalam NATO, yang menjadi alasan Putin menginvasi tetangganya itu. Keamanan Rusia dan Cina kian rentan bila AS menduduki Greenland. Bagi Cina, munculnya rezim baru di Iran yang pro-AS, akan membuyarkan inisiasinya membangun proyek infrastruktur global (OBOR). Salah satunya, menyambungkan Beijing ke Timteng, Afrika, dan Eropa, melalui Iran. Perubahan rezim di Iran akan juga membuat posisi Moskow dan Beijing di Timteng kian rapuh.
Arab pun tak mau Israel terlalu dominan. Terutama kalau Hezbollah berhasil dilucuti, militer Israel bertahan di Suriah, setelah sebelumnya membangun persekutuan dengan Yunani dan Siprus untuk mengepung Turki. Sementara itu, struktur Dewan Perdamaian yang dipimpin Trump di Gaza untuk implementasi fase ke-2 dari 20 poin perdamaian Trump yang baru saja diumumkan terlalu berpihak pada Israel. Dus, kecil kemungkinan two-state solution diwujudkan. Dengan demikian, situasi geoekonomi dan geopolitik global kian tak menentu. Dalam konteks ini, mengherankan, respons Indonesia tak terdengar.
Tangsel, 19 Januari 2026
Catatan kaki : Artikel ini sebelumnya telah terbit di harian terkemuka nasional Media Indonesia













Komentar