Pertumbuhan Tinggi, Pengangguran Meningkat, dan Trans Kieraha Jadi Solusi Mendesak
MALUKU UTARA – Di tengah lonjakan pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yang digerakkan oleh industri pengolahan nikel, pasar kerja justru menunjukkan gejala tekanan serius. Laporan terbaru SIDEGO Kie Raha mengungkapkan paradoks ekonomi yang mengkhawatirkan: pertumbuhan tinggi, tetapi pengangguran meningkat, kualitas pekerjaan menurun, dan ketimpangan wilayah makin tajam. Di tengah situasi ini, kebijakan Trans Kieraha—transmigrasi lokal dari pulau-pulau kecil ke Pulau Halmahera—muncul sebagai solusi strategis yang tak bisa ditunda.
Pertumbuhan Ekonomi Tak Menjamin Lapangan Kerja
Dalam lima tahun terakhir, Maluku Utara mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan timur Indonesia, didorong oleh ekspansi smelter nikel di Halmahera Tengah dan Selatan. Namun, laporan SIDEGO menunjukkan bahwa pertumbuhan ini tidak diiringi oleh penciptaan lapangan kerja yang memadai. Fenomena ini dikenal sebagai *growth without jobs.
Data terbaru menunjukkan bahwa dari 705,58 ribu angkatan kerja, sebanyak 32,12 ribu orang masih menganggur. Lebih mencemaskan lagi, 40% dari mereka yang bekerja adalah pekerja paruh waktu atau setengah penganggur, mereka bekerja, tetapi dengan jam kerja rendah dan pendapatan tidak stabil. Ini menciptakan kemiskinan semu di tengah pertumbuhan ekonomi yang impresif.
Industri Tumbuh, Tapi Tidak Inklusif
Sektor industri pengolahan kini menyerap 24,9% tenaga kerja, tumbuh 4,56% dalam setahun terakhir. Namun, pekerjaan di sektor ini cenderung padat modal dan membutuhkan keterampilan tinggi, sehingga tidak banyak menyerap tenaga kerja lokal berpendidikan menengah ke bawah. Ironisnya, banyak posisi justru diisi oleh migran dari provinsi lain.














Komentar