oleh

SIDEGO Rilis Laporan Tahun 2025 : Pasar Kerja Maluku Utara di Persimpangan

-HEADLINE-689 Dilihat

Sementara itu, sektor pertanian penyerap tenaga kerja tradisional mengalami kontraksi 6,9%, menandakan penurunan produktivitas dan eksodus tenaga kerja. Perdagangan dan jasa tumbuh lambat, tidak cukup untuk menampung lonjakan angkatan kerja baru.

Krisis Tersembunyi: Pengangguran Muda dan Perempuan

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Maluku Utara naik menjadi 4,55% pada Agustus 2025, meningkat 0,52 persen poin dari tahun sebelumnya. Tekanan paling besar datang dari kelompok usia muda (15–30 tahun), yang menghadapi risiko job mismatch akibat ketidaksesuaian antara pendidikan dan kebutuhan industri.

Baca Juga  HMI TUNTUT GUBERNUR SHERLY BATALKAN PT.ORMAT GEOTHERMAL INDONESIA.

Ketimpangan gender juga mencolok. TPT perempuan mencapai 5,15%, lebih tinggi dari laki-laki (4,19%). Banyak perempuan terjebak dalam pekerjaan domestik atau tidak memiliki akses ke sektor industri yang maskulin dan tidak ramah gender.

Di sisi lain, pengangguran di wilayah perkotaan (6,12%) jauh lebih tinggi dibandingkan perdesaan (3,85%), mencerminkan urbanisasi tanpa penciptaan lapangan kerja formal. Kota-kota di Maluku Utara kini menghadapi tekanan dari ledakan pencari kerja, sementara desa-desa masih bergantung pada pertanian informal yang stagnan.

Baca Juga  SUBA’TA — Ekonom Mukhtar Adam : Gugus Pulau yang Tertinggal di Tengah Gemerlap Ekonomi Timur Indonesia

Trans Kieraha: Jalan Menuju Pertumbuhan Inklusif

SIDEGO menilai bahwa ketimpangan spasial antara Pulau Halmahera dan 64 pulau kecil di sekitarnya menjadi akar dari banyak persoalan pasar kerja. Halmahera menguasai 75% ekonomi provinsi, tetapi memiliki kepadatan penduduk terendah. Sebaliknya, pulau-pulau kecil mengalami stagnasi ekonomi, biaya layanan publik tinggi, dan keterbatasan lapangan kerja.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *