oleh

TAJUK EDITORIAL : “Surat dari Timur untuk Presiden: Saatnya Meneguhkan Sumbu Baru Nusantara”

-Editorial-475 Dilihat

Ini bukan sekadar gagasan sosial, tetapi juga strategi ekonomi dan geopolitik. Ketika dunia menghadapi krisis pangan dan energi, Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada rantai pasok Pulau Jawa. Pusat-pusat produksi pangan, energi, dan industri harus tersebar merata — dan Halmahera dengan segala potensi sumber dayanya, adalah laboratorium alami untuk itu.

Halmahera, Cermin Nusantara yang Lama Terlupakan

Tidak banyak wilayah di Indonesia Timur yang mencatat pertumbuhan ekonomi rata-rata 28,5% per tahun seperti Maluku Utara sejak 2020. Namun di balik angka itu tersembunyi kesenjangan yang menyesakkan. Harga bahan pokok melonjak di pulau-pulau kecil, infrastruktur terbatas, dan ketahanan pangan masih berada di peringkat bawah nasional.

Inilah ironi pembangunan berbasis ekstraksi: pertumbuhan tinggi tidak otomatis berarti kesejahteraan.Transnusa berpotensi menjadi antitesis dari model itu. Sebuah pendekatan yang menumbuhkan ekonomi berbasis manusia dan komunitas, bukan sekadar proyek dan tambang.

Sumbu Baru Nusantara

Secara geopolitik, Halmahera berada di jantung segitiga strategis antara Pasifik dan Australia. Dalam konteks ketahanan nasional, wilayah ini bukan hanya aset, tetapi benteng. Membangun Halmahera berarti menegakkan kedaulatan di perbatasan Timur Nusantara, memperkuat rantai logistik antar pulau, sekaligus menghidupkan kembali semangat “membangun dari pinggiran” yang dahulu dijanjikan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *