oleh

RAPBD MALUT 2026 : Dana Komunikasi Gubernur Capai Rp 11,4 Miliar: Ironi di Tengah Seruan Efisiensi ?

-HEADLINE-1208 Dilihat

“Pemerintah tidak boleh kehilangan sensitivitas sosial. Efisiensi bukan sekadar pemotongan anggaran, tapi juga refleksi moral bahwa setiap rupiah uang rakyat harus dikelola dengan hati-hati dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” tutur Dr. Saiful.

Komunikasi yang Menghubungkan, Bukan Menjauhkan

Idealnya, komunikasi seorang Gubernur berfungsi untuk mendekatkan pemerintah dengan rakyat bukan sekadar memperluas jaringan kekuasaan atau membangun citra pribadi. Dalam praktiknya, komunikasi publik yang efektif tidak selalu membutuhkan dana besar. Justru dengan pemanfaatan kanal digital yang murah dan partisipatif, kepala daerah bisa langsung berinteraksi dengan warganya secara transparan.

Baca Juga  SIGAP! Sekda Rizal Marsaoly Gerak Cepat Bentuk Posko Gempa 7,6 SR di Ternate

Namun, alokasi dana komunikasi yang jumbo tanpa rincian manfaat yang jelas hanya akan menimbulkan skeptisisme publik. Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah bisa terkikis jika transparansi anggaran tidak segera ditingkatkan.

Menutup Jarak Antara Gosale Puncak dan Rakyat

Baik Dr. Saiful Ahmad maupun Said Alkatiri sepakat bahwa transparansi dan akuntabilitas harus menjadi roh utama dalam setiap kebijakan anggaran. Dalam situasi ekonomi yang belum pulih, rakyat menuntut kepemimpinan yang berempati, bukan yang hidup dalam kemewahan simbolik birokrasi.

Baca Juga  SUKSES & FENOMENAL: Monolog 4 Pahlawan Moloku Kie Raha Hipnotis Ratusan Penonton di XXI Jati Land Ternate

Uang sebelas miliar lebih untuk “komunikasi” seharusnya mampu menghasilkan keterbukaan informasi, bukan kebingungan publik. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan komunikasi seorang Gubernur bukan pada besarnya dana yang dihabiskan, melainkan pada seberapa dekat ia dengan rakyat yang dipimpinnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *