oleh

MERATAPI RERUNTUHAN NALAR – Menakar Kedalaman Narasi Anwar Husen

Oleh: M.Guntur Alting

Bencana alam sering kali menjadi cermin yang paling jujur untuk melihat wajah asli sebuah bangsa.

Dalam tulisannya yang bertajuk “Dua Gempa, Satu Akibatnya”, Anwar Husen tidak sekadar berdiri sebagai “pelapor peristiwa” atas guncangan magnitudo 7,6 yang melanda Maluku Utara pada 2 April 2026.

Ia melangkah lebih jauh dengan melakukan pembedahan sosiologis dan politik yang pahit.

Baca Juga  Pencitraan Palsu Adalah Sikap dan Sifat Yang Sombong dan Bodoh

Melalui narasi yang mengalir, penulis mengajak kita menyadari bahwa di balik runtuhnya dinding-dinding rumah akibat aktivitas tektonik, ada reruntuhan lain yang jauh lebih purba dan berbahaya, yakni “reruntuhan nalar publik dan kegagalan logika kebijakan.”

–000–

Esai Anwar Husen dibuka dengan sebuah paradoks zaman yang getir.

Di saat bumi berguncang—sebuah momen di mana “insting purba” manusia seharusnya menuntun pada perlindungan diri.

Baca Juga  Obituary: KESUNYIAN DI MENARA GADING

Namun, masyarakat modern justru terjebak dalam desakan eksistensi digital. Ada pemandangan ganjil di mana gawai lebih cepat diraih daripada tangan anak atau orang tua.

Fenomena “demi konten” ini bukan sekadar perilaku narsistik biasa, melainkan sebuah sinyal bahwa nalar kita telah mengalami pergeseran prioritas yang fatal.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *