oleh

LITERASI

-OPINI-605 Dilihat

Oleh : M.Guntur Alting


KEMARIN, saya menulis esai “Membaca (Bahasa) di Bulan Bahasa”. Kali ini masih berkaitan dengan soal literasi.

Bagi masyarakat kita, membaca masih jadi aktivitas “mewah”. Minat baca kita masih sangat rendah. Bahkan, aktivitas membaca kerap dipandang sebagai kegiatan yang aneh dan tidak populer. .

“Saya tidak pernah yakin, dan tidak pernah terlalu percaya, bahwa tulisan saya dibaca orang” Kata teman saya sesama penulis suatu ketika.

“Kita berasal dari sebuah negeri yang resminya sudah bebas buta huruf, namun yang bisa dipastikan masyarakatnya sebagian besar belum membaca secara benar, yakni membaca untuk memberi makna”.

Demikian kata pemerhati bahasa dan satra Anton Kurnia yang saya baca dalam buku “Jejak Perlawananan Manusia Atas Hegemoni Kuasa” (2016).

Baca Juga  Milad ke-24, PKS Halsel Bagi 240 Paket Barito, Bassam Kasuba : PKS Konsisten Berdiri Bersama Rakyat

Masyarakat kita adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat. Membaca untuk mengetahui harga-harga. Membaca untuk melihat lowongan pekerjaan. Membaca untuk menengok hasil pertandingan sepak bola. Membaca karena ingin tahu berapa persen discount di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca untuk hiburan.

Saya jadi teringat dengan pidato Anies Baswedan “Masyarakat kita minat bacanya tinggi, tapi daya bacanya rendah”

Maksudnya kalau baca status di medsos seperti face book, twitter, komentar nitizen, tiktok.Bisa tahan. “Itu namanya minat ada.”
Tapi ketika disodorkan tulisan agak panjang “skip”. Buku-buku ilmu atau akademik, menyerah. “Ini artinya daya baca rendah.”

Baca Juga  Milad ke-24, PKS Halsel Bagi 240 Paket Barito, Bassam Kasuba : PKS Konsisten Berdiri Bersama Rakyat

Fenomena ini oleh Yudi Latif disebut sebagai “Psoedo Literasi” literasi semu atau palsu.Yaitu ketika orang lebih senang membaca sesuatu yang receh-receh, sensasional,gosip, desas-desus.

Ruang-ruang publik dan medsos kita jadi riuh da dipenuhi dengan kedangkalan.

Sementara itu, bagi lingkaran eksklusif kaum intelektual di negeri kita, apa yang disebut puisi, cerita pendek, atau novel.Hanya dianggap mainan remaja saja.

“Dalam masyarakat semacam itu, apakah seorang penulis masih ada gunanya?” ujar sastrawan kondang Seno Gumira Ajidarma dalam pidato penerimaan Hadiah Sastra Asia Tenggara di Bangkok pada 1997 silam.

Ironisnya, gugatan Seno itu masih juga relevan dengan situasi kita sekarang. Alih-alih membaca karya sastra.Kegiatan membaca itu sendiri dipandang tidak menarik oleh sebagian besar masyarakat kita. Lebih menarik menonton youtube, tiktok yang kadang tidak mendidik.

Baca Juga  Milad ke-24, PKS Halsel Bagi 240 Paket Barito, Bassam Kasuba : PKS Konsisten Berdiri Bersama Rakyat

Di sisi lain, pemerintah pun kerap melakukan kebijakan yang tidak mendukung kegiatan membaca.

Di antaranya, pajak yang tinggi untuk para penulis, harga kertas yang mahal sehingga berimbas pada tingginya harga buku, serta kerap terjadi pelarangan buku dengan berbagai dalih.

Kita punya seorang sastrawan sekaliber Pramoedya Ananta Toer yang berkali-kali dicalonkan sebagai pеmе-nang Hadiah Nobel Sastra.

Namun, tragisnya, selama puluhan tahun lewat keputusan resmi pemerintah karya-karya Pramoedya (1925-2006) termasuk dalam daftar hitam: dilarang beredar karena alasan-alasan yang terkadang tak masuk akal.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *