oleh

Program Digitalisasi Pendidikan Dinilai Gagal Fokus: Dr. Saiful Ahmad Sebut Gubernur Sherly Tjoanda ………

-Malut-1243 Dilihat

Ternate – 17 Oktober 2025||Gelombang kritik terhadap kebijakan digitalisasi pendidikan SMA dan SMK yang digagas oleh Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, terus menguat. Setelah Fraksi PKS di DPRD Maluku Utara menyatakan penolakan karena minimnya infrastruktur pendidikan, kini giliran Dr. Saiful Ahmad, M.Si., akademisi dan pengamat kebijakan publik yang menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk “ketidakpedulian pemerintah terhadap realitas dunia pendidikan.”

Baca Juga  Bukan APBD! Warisan Jam Pasir dari Kebun Tidore Ini yang Diam-Diam Bangun Rumah dan Lahirkan

Menurut Dr. Saiful, Gubernur Sherly Tjoanda gagal memahami akar masalah pendidikan di Maluku Utara. Ia menilai program digitalisasi pendidikan yang digembar-gemborkan pemerintah provinsi hanyalah kebijakan yang tampak modern di permukaan, namun tidak berpijak pada fakta lapangan yang memperihatinkan.

“Gubernur tidak peduli terhadap pendidikan di Maluku Utara. Indikatornya jelas. Pertama, data kerusakan sekolah masih banyak. Kedua, penyebaran sekolah SMA, SMK, dan SLB belum merata. Ketiga, program beasiswa pun hanya bersifat populis, bukan solusi,” tegas Dr. Saiful.

Baca Juga  Proyek Tanggul Sungai di Desa Gumira Milik PUPR Malut Disorot, Progres Lamban dan Matrial Galian C Diduga Ilegal

Mantan Tenaga Ahli Pimpinan DPR RI ini menilai, kebijakan digitalisasi seharusnya didahului dengan pemetaan menyeluruh terhadap kondisi sekolah di daerah. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak sekolah menengah di luar Ternate masih kekurangan ruang kelas layak, fasilitas belajar rusak, dan jaringan internet yang tidak stabil.

“Bagaimana mau bicara digitalisasi kalau papan tulis saja retak dan kursi murid masih disangga batu? Ini bukan transformasi, tapi ilusi,” kritiknya tajam.

Baca Juga  WARGA GURAPIN SOROT SISI LAIN DIBALIK KEMERIAHAN HUT KE-27 PROVINSI MALUKU UTARA

Lebih jauh, Dr. Saiful menuding bahwa kebijakan pendidikan di bawah Gubernur Sherly Tjoanda lebih didorong oleh kepentingan pencitraan ketimbang peningkatan kualitas pendidikan. Ia mencontohkan program beasiswa mahasiswa yang dianggap tidak substantif dan tidak menyentuh kebutuhan riil mahasiswa di lapangan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *