oleh

TERBAKARNYA CENGKEH; LUKA SENG BADARAH DI PULAU TALIABU — Oleh: Dr. Muammil Sunan / Ekonom Unkhair Ternate


Kabupaten Pulau Taliabu adalah kabupaten termuda hasil pemekaran dari Kabupaten Kepulauan Sula pada 2012. Dengan 66.985 jiwa penduduk pada akhir 2025, ia adalah kabupaten yang berjalan pelan, nyaris tertatih, dibanding saudara-saudaranya di Maluku Utara.

Di tengah lambatnya pembangunan itu, ada satu hal yang membuat warga Taliabu tetap bisa bertahan hidup dengan kepala tegak: cengkeh.

Bagi orang luar, cengkeh mungkin hanya komoditas perkebunan. Bagi warga Taliabu, cengkeh adalah segalanya. Cengkeh adalah beras di piring, uang sekolah anak, biaya berobat orang tua, dan ongkos untuk menyambung hidup dari musim ke musim. Ratusan hektare kebun cengkeh, terutama di Taliabu Utara, adalah bank kehidupan yang ditanam turun-temurun oleh para leluhur.

Baca Juga  JUMAT DALAM TITIAN WAKTU

Maka ketika 53 ribu pohon cengkeh di 5 desa — Salati, Nggele, Lede, Todoli, dan Sahu — ludes terbakar, kita tidak sedang bicara soal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semata. Kita sedang bicara tentang terbakarnya masa depan. Terbakarnya sumber kehidupan.

Saya menyebutnya: Luka Seng Badarah. Luka yang darahnya tidak terlihat, tapi perihnya menembus tulang.

Baca Juga  HILIRISASI RP 180 TRILIUN: Ekosistem Nikel Global

Luka Ekonomi yang Tak Berdarah

Secara ekonomi, ini adalah bencana sistemik. Pohon cengkeh bukan tanaman cabai yang tiga bulan bisa panen lagi. Cengkeh butuh 5-7 tahun untuk produktif kembali secara optimal. Artinya, keluarga yang kebunnya terbakar hari ini, kehilangan pendapatan untuk 5 tahun ke depan.

Bagaimana mereka makan besok? Bagaimana anak-anak mereka yang sedang kuliah di Ternate, di Makassar, di Jawa, bisa lanjut? Bagaimana utang di kios bisa dibayar?

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *