oleh

TERBAKARNYA CENGKEH; LUKA SENG BADARAH DI PULAU TALIABU — Oleh: Dr. Muammil Sunan / Ekonom Unkhair Ternate


Inilah luka seng badarah. Tidak ada darah yang tumpah, tidak ada korban jiwa yang dicatat di laporan BPBD. Tapi ada ribuan jiwa yang mengalami depresi ekonomi, kecemasan kolektif, dan ketidakpastian hidup yang jauh lebih menyakitkan daripada luka fisik.

Negara tidak boleh abai pada luka yang tidak berdarah ini. Karena luka inilah yang paling lama sembuhnya.

Baca Juga  Jacob Ereste : Penggugat dan Tergugat Dalam Putusan MK Tentang Wapres ; Usulan Syahganda Nainggolan Seperti "Tukar Guling" Bisa Lebih Bijak Menjadi Pilihan Dilakukan

Gagalnya Negara Membaca Krisis

Ironisnya, di saat luka seng badarah ini menganga di Taliabu, perhatian negara justru terlihat timpang.

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, dengan sigap mengunjungi kebakaran kecil di Kelurahan Takome, Kota Ternate, dan dengan gagah memberikan bantuan Rp 1 miliar untuk bencana di NTT. Itu baik. Tapi di saat yang sama, 53 ribu pohon cengkeh milik rakyatnya sendiri di Taliabu dibiarkan menghitam tanpa kehadiran pemimpinnya.

Baca Juga  CATATAN BUNG PIMRED : MENIMANG-NIMANG NASIB GIBRAN PASCA PUTUSAN MK SOAL IJAZAH

Ini bukan soal membandingkan dua bencana. Ini soal _sense of crisis_ dan keadilan sebagai pemimpin provinsi kepulauan.

Apa pesan yang ditangkap warga di Desa Salati ketika mereka melihat gubernur lebih cepat ke NTT dan ke Takome, tapi tidak pernah ke Taliabu? Pesan yang muncul adalah: kami dianak-tirikan. Kami jauh, kami tidak penting.

Baca Juga  ANGGUN DAN NASIONALISME KOSMOPOLITAN KITA

Padahal, Taliabu adalah penyumbang devisa cengkeh terbesar di Maluku Utara. Saat panen raya, uang dari Taliabu mengalir ke Ternate, ke Sofifi, menggerakkan ekonomi. Tapi saat Taliabu terbakar, Sofifi diam.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *