Vietnam memilih jalan nasionalisme merek melalui VinFast: membangun identitas nasional melalui sebuah produk otomotif yang diciptakan dan dipasarkan sebagai merek Vietnam. Indonesia memilih jalan yang berbeda. Indonesia berusaha menggunakan kekuatan sumber daya alam—khususnya nikel—sebagai pintu masuk untuk menguasai bagian strategis dari rantai pasok industri kendaraan listrik global.
Keduanya bukan pilihan yang salah. Tetapi keduanya memiliki risiko yang berbeda.
Membangun merek nasional memberikan identitas dan kebanggaan nasional, tetapi membutuhkan modal, teknologi, dan waktu yang sangat besar. Sebaliknya, mengundang pemain global memberikan akses lebih cepat terhadap modal, teknologi, dan pasar, tetapi memiliki risiko membuat Indonesia hanya menjadi lokasi produksi atau pasar bagi merek asing.
Karena itu, hilirisasi nikel tidak boleh berhenti pada ekspor produk setengah jadi, sebagaimana industri otomotif tidak boleh berhenti pada kegiatan perakitan. Keduanya harus menjadi bagian dari strategi industrialisasi yang lebih besar.
Dan di sinilah pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian di bawah kepemimpinan Muhammad Sarmuji, menghadapi pekerjaan besar: memastikan fondasi yang telah dibangun pada era Agus Gumiwang tidak hanya diteruskan, tetapi diperkuat dengan sistem pengendalian yang mampu mengukur manfaat, mengantisipasi risiko, dan memastikan kepatuhan industri terhadap komitmen investasinya.
*Bukan Soal Siapa Pemilik Mereknya*
Pada akhirnya, pertanyaan strategisnya bukan hanya: “Kapan Indonesia memiliki Mobil Nasional?”
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: “Berapa besar nilai tambah industri otomotif global yang berhasil dikuasai Indonesia?”
Jika mobil bermerek asing diproduksi di Indonesia, menggunakan baterai yang dibuat di Indonesia, memanfaatkan nikel yang diolah di Indonesia, menggunakan semakin banyak komponen lokal, dikerjakan oleh tenaga kerja Indonesia, kemudian diekspor dari Indonesia ke pasar global, maka secara ekonomi Indonesia telah memperoleh bagian penting dari kedaulatan industri—meskipun logo di kap mobil bukan milik Indonesia.
Namun, strategi ini hanya akan berhasil jika pemerintah konsisten memastikan bahwa investasi asing benar-benar menghasilkan transfer teknologi, peningkatan TKDN, penguatan industri komponen, pengembangan SDM, dan perluasan pasar ekspor.
Jangan sampai Indonesia hanya menjadi pasar terbesar sekaligus tambang terbesar, tetapi nilai tambah tertingginya tetap dinikmati di luar negeri.
Karena itu, mimpi Mobil Nasional mungkin perlu didefinisikan ulang. Mobil Nasional tidak harus selalu berarti mobil dengan merek nasional. Ia bisa berarti ekosistem industri nasional yang mampu menciptakan nilai tambah, menguasai teknologi, dan menjadi bagian penting dari rantai pasok global.
Dan jika itu berhasil, hilirisasi nikel bukanlah tujuan akhir. Ia adalah salah satu jalan menuju kedaulatan industri nasional.
Jakarta, 0510’26
*) Gunawan Adji, Ir. Ph.D. (Akademisi, Konsultan GRC & Pengurus Pusat Persatuan Insinyur Indonesia 2024-2027)









Komentar