Yang turun ke lapangan bukan Gubernur, melainkan:
– Di Pulau Taliabu yang paling parah, 135,5 hektare dan 8.381 pohon cengkeh siap panen musnah, yang turun Wakil Bupati La Ode Yasir, Sekda Yosar Kardiat, BPBD, dan Polres. Warga sampai membangun sumur bor darurat karena pipa PDAM ikut terbakar.
– Di Halmahera Tengah, Wakil Bupati yang meninjau langsung karhutla Gunung Tabalik yang mengganggu arus lalu lintas, 10 Oktober kemarin.
– Di Halmahera Utara, episentrum karhutla dengan 508,6 hektare di 69 desa, hanya BPBD dan petani yang berjibaku. Kota Tobelo diselimuti asap, jarak pandang 100 meter.
– Di Morotai, 15 titik api dalam sepekan ditangani Damkar dengan armada seadanya.
Sementara di tingkat provinsi, yang bersuara hanya Sekda Samsuddin Abdul Kadir yang menyebut sudah 108 hari tanpa hujan di Pulau Hiri dan membentuk Satgas. Belum ada SK Penetapan Status Siaga Darurat Bencana dari Gubernur yang menjadi kunci pembuka Belanja Tidak Terduga (BTT).
Mantan pimpinan DPRD Malut itu menyarankan langkah konkret, bukan seremoni.
“Saya lihat bencana kemarau dan kebakaran hutan terus meluas dan masif. Butuh penetapan status darurat agar segala potensi termasuk anggaran bisa dikerahkan,” tandas Abdurrahim.
Warga kini menanti: kapan Gubernur Sherly berhenti berjoget dan mulai turun melihat kebun rakyatnya yang jadi abu.
Sementara itu, dikutip dari laman website Dibudpar Provinsi Maluku Utara, Puncak peringatan HUT ke-27 Provinsi Maluku Utara yang diselenggarakan di Bundaran 40 Tavamu Sofifi pada 10-11 Oktober 2026 akan dimeriahkan oleh penampilan artis ibukota Salma Salsabil, King Nassar, and Rina Nose.








Komentar