“Kasihan sekali rakyat Maluku Utara terdampak kemarau panjang dan kebakaran hutan tanpa perhatian Gubernur Sherly Tjoanda yang mereka elu-elukan,” ujar Abdurrahim Fabanyo lirih.
Direktur LSM Malut Institute itu menyebut sikap Gubernur tidak sensitif terhadap bencana.
Menurut Fabanyo, di tengah bencana alam yang menimpa rakyatnya, Gubernur semestinya fokus dan mengerahkan segala potensi untuk menolong dan melindungi warganya. Bukan justru menggelar pesta meriah.
“Yang ada tidak ada langkah strategis Gubernur Sherly untuk mengurai masalah kemarau dan karhutla ini,” tukasnya.
Fakta di Lapangan Berbanding Terbalik:
Data Polda Malut mencatat 186 kejadian karhutla seluas 339,33 hektare. Data WALHI bahkan mencatat 3.314 hektare hangus sepanjang 2026.








Komentar