oleh

Barifola dan Martabat Warga: Modal Sosial sebagai Jalan Penanggulangan Kemiskinan di Maluku Utara


—————————————————————————————————–
Oleh:Dr. Muhammad Kamal, SE., M.Si.

Kemiskinan di Maluku Utara tidak dapat dibaca hanya sebagai kekurangan pendapatan rumah tangga. juga tampak dalam hunian yang tidak layak, layanan dasar yang terbatas, dan lemahnya posisi sosial keluarga rentan. Ketika keluarga kehilangan rumah yang aman, mereka sering kehilangan ruang untuk membangun rasa percaya diri dan masa depan anak-anaknya. Karena itu, kebijakan pengentasan kemiskinan harus menjangkau kebutuhan material sekaligus martabat sosial warga. Program Barifola memberi pelajaran bahwa solidaritas lokal dapat menjadi jembatan antara bantuan sosial dan pemulihan kehidupan keluarga. Namun, kekuatan tersebut hanya akan bertahan jika didukung kelembagaan yang adil, terbuka, dan berkelanjutan.

Barifola lahir dari ikatan sosial warga melalui Ikatan Keluarga Todore di Kota Ternate. Program ini menghimpun tenaga, dana, bahan bangunan, perhatian, dan dukungan moral untuk keluarga yang membutuhkan. Praktiknya menunjukkan bahwa masyarakat tidak selalu pasif ketika menghadapi kemiskinan di lingkungannya. Warga dapat mengorganisasi sumber daya bersama apabila terdapat kepercayaan dan kepemimpinan yang dipercaya. Dalam konteks ini, Barifola bukan sekadar kegiatan amal atau pemberian bantuan sesaat. Barifola merupakan kerja kelembagaan sosial yang mengubah kepedulian menjadi tindakan kolektif.

Baca Juga  MENENUN PULANG DI TANAH RANTAU - Refleksi atas Silaturahmi Akbar Keluarga Besar Tidore Jabodetabek

Urgensi model seperti Barifola terlihat dari kontras antara pertumbuhan ekonomi dan kerentanan sosial di Maluku Utara. BPS mencatat ekonomi Maluku Utara tumbuh 34,17 persen pada 2025, dengan industri pengolahan tumbuh 62,64 persen.
Namun, pada September 2025 masih terdapat 74,81 ribu penduduk miskin atau 5,59 persen dari total penduduk provinsi. Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan tinggi tidak otomatis menjangkau semua keluarga secara setara.

Pertumbuhan dapat terkonsentrasi pada sektor, lokasi, dan kelompok yang memiliki akses terhadap modal serta pekerjaan formal. Karena itu, modal sosial perlu hadir sebagai mekanisme koreksi agar manfaat pembangunan tidak berhenti pada angka makroekonomi.

Nilai pertama dalam Barifola adalah kepercayaan sosial. Kepercayaan membuat anggota komunitas bersedia menyumbang tanpa selalu menuntut balasan langsung. Mereka percaya bahwa bantuan akan dikelola bagi keluarga yang benar-benar membutuhkan dan digunakan untuk tujuan yang jelas. Kepercayaan juga menekan biaya koordinasi karena kerja bersama tidak harus bergantung pada prosedur yang panjang dan mahal. Dalam masyarakat yang menghadapi keterbatasan fiskal, nilai ini menjadi aset penting untuk mempercepat dukungan sosial. Tanpa kepercayaan, bantuan mudah berubah menjadi arena kecurigaan, persaingan, dan perebutan pengaruh.
Nilai kedua ialah Babari atau semangat gotong royong. Babari menempatkan kesulitan satu keluarga sebagai persoalan bersama, bukan semata-mata beban pribadi. Warga yang memiliki tenaga, waktu, material, pengetahuan, atau jaringan ikut mengambil bagian sesuai kemampuannya. Kerja kolektif ini menjadikan keluarga penerima manfaat tetap berada dalam jaringan sosial, bukan terasing dari lingkungannya.

Baca Juga  Catatan Pagi Jumat 18:09:26 : KPK Dianggap lakukan pembusukan terhadap Prabowo jika tidak segera TSK Nusron Wahid

Dalam proses tersebut, bantuan tidak hanya menghasilkan bangunan fisik tetapi juga memperkuat hubungan antarwarga. Babari membangun keyakinan bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk menyelesaikan sebagian masalahnya secara bersama.

Nilai ini sangat relevan bagi Maluku Utara yang memiliki ikatan keluarga, kampung, adat, dan keagamaan yang kuat.

Nilai ketiga ialah penghargaan terhadap kemampuan dan kebebasan warga miskin untuk memperbaiki hidupnya. Amartya Sen menegaskan bahwa pembangunan harus dipahami sebagai perluasan kapabilitas atau kebebasan nyata manusia untuk menjalani kehidupan yang mereka nilai berharga (Sen, 1999). Pandangan ini relevan bagi Barifola karena rumah layak huni bukan tujuan akhir dari program. Rumah yang aman memberi keluarga ruang untuk hidup sehat, mendidik anak, bekerja, dan membangun interaksi sosial yang lebih baik. Bantuan yang memulihkan kapabilitas berbeda dari bantuan yang hanya menjaga ketergantungan penerima. Karena itu, Barifola perlu dinilai dari kemampuannya memperbesar pilihan hidup keluarga, bukan hanya dari jumlah bantuan yang tersalurkan. Ukuran keberhasilannya harus mencakup perbaikan kondisi hidup, kepercayaan diri, pendapatan, dan peluang generasi berikutnya.

Baca Juga  Milad 60 Tahun KAHMI: Dari Konflik Internal Menuju Konsensus Kepemimpinan Nasional.

Dokumen penelitian tentang Barifola menunjukkan manfaat ekonomi melalui penyediaan rumah tinggal layak huni dan fasilitas dasar bagi keluarga penerima.

Perbaikan tempat tinggal, listrik, air bersih, serta perlengkapan rumah tangga dapat mengurangi beban kerentanan sehari-hari. Keluarga tidak lagi menghadapi risiko yang sama akibat hunian yang rapuh atau lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *