oleh

AKHIRNYA JUARA


 

​Oleh: M.Guntur Ating
—
​DRAMA luar biasa terjadi di Stadion GBK semalam, Indonesia vs Thailand. Skor akhirnya: 4-2 lewat adu penalti.

​Inilah untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia resmi jadi Raja ASEAN!

​Saya menontonnya sambil menahan napas. Jantung seperti mau melompat keluar, muka saya kadang berubah pucat.

Baca Juga  MBG SEBAGAI CONSTITUTIONAL INVESTMENT: Pendekatan GRC — Oleh: Gunawan Adji )

-000-

Di tempat lain, ribuan warung kopi histeris. Tukang bakso lupa melayani pembeli. Penonton di rumah ada yang sampai memeluk televisi.

Absurd?

Memang

Tapi itulah sepak bola kita.

​Padahal, secara statistik, Thailand adalah raksasa. Peringkat mereka 94 FIFA. Kita? Peringkat 118.

Dari segi kalkulasi di atas kertas, Thailand jagonya. Tapi bola itu bulat. Di lapangan, kertas kalkulasi tidak ada gunanya kalau lawan punya nyali.

Baca Juga  Gurita Bisnis dan Konflik Kepentingan: Menelisik Obral Obligasi Tambang di Pesisir Maluku Utara

​Sejak menit pertama, pertandingan sudah seperti perang saraf. Wasitnya asal Uzbekistan: Ahrol Risqullaev, sagat Ketat.

Menit ke-2, Luke Vickery dapat peluang emas. Sayang ditahan kiper Thailand. Menit ke-8, Emil Audero ditabrak.

Untung selamat.

​Lalu Presiden Prabowo Subianto terlihat duduk di tribune utama. Di sampingnya ada Presiden FIFA. Kehadiran tokoh-tokoh ini seperti memberi suntikan daya tahan ekstra buat anak-anak Garuda.

Baca Juga  KEBIJAKAN OMON-OMON GUBERNUR SHERLY TJOANDA — PAPINO (Pengamat Perencanaan Wilayah)

​Babak pertama berakhir 0-0. Sama kuat. Tapi tensinya sangat tinggi.​Hujan Kartu dan Drama di Menit Akhir

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *