oleh

48 TAHUN MAKAYOA: ANTARA KEBESARAN NAMA, KEPENTINGAN SESaat, DAN HILANGNYA ORIENTASI SOSIAL


“Sebuah Refleksi Kritis tentang Masa Depan Kerukunan Masyarakat Makian dan Kayoa”

Oleh: H. Muhammad A. Adam

Empat puluh delapan tahun bukanlah perjalanan waktu yang singkat bagi sebuah komunitas atau organisasi sosial kemasyarakatan. Dalam rentang waktu hampir setengah abad, seharusnya sebuah lembaga telah tumbuh menjadi institusi sosial yang matang, memiliki arah perjuangan yang jelas, sistem kelembagaan yang kuat, serta mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang menjadi bagian dari keberadaannya.

Makayoa, sebagai wadah kerukunan keluarga masyarakat Makian dan Kayoa, sesungguhnya memiliki modal sosial dan sejarah persaudaraan yang sangat besar. Di dalamnya terdapat ikatan kekerabatan, kesamaan akar sejarah, kekayaan budaya, serta potensi sumber daya manusia yang tersebar di berbagai bidang kehidupan.

Baca Juga  Catatan Ringan jelang Subuh: Jokowi dan Gibran kini telah menjadi Bidak Catur Kekuasaan Prabowo? — Oleh: Muslim Arbi/Pengamat

Namun, setelah perjalanan panjang selama 48 tahun, kita patut mengajukan sebuah pertanyaan mendasar: apakah keberadaan Makayoa selama ini telah benar-benar menjawab harapan masyarakatnya? Apakah organisasi ini telah berkembang menjadi kekuatan sosial yang mampu memperjuangkan kepentingan bersama, atau justru masih terjebak dalam rutinitas kelembagaan yang lebih banyak bergerak mengikuti momentum dan kepentingan sesaat?

Pertanyaan ini bukanlah bentuk ketidakpedulian terhadap organisasi. Justru sebaliknya, ini merupakan bentuk kepedulian terhadap masa depan sebuah wadah kekeluargaan yang memiliki tanggung jawab moral terhadap masyarakatnya.

Baca Juga  FREE PALESTINE, STRUGGLE FROM WITHIN: Strategi Diplomasi Prabowo

Kita tentu menghargai jasa para pendiri dan seluruh tokoh yang telah meletakkan dasar keberadaan Makayoa. Tanpa perjuangan mereka, mungkin wadah persaudaraan ini tidak akan dikenal dan bertahan hingga sekarang. Akan tetapi, penghargaan terhadap sejarah tidak boleh membuat kita kehilangan keberanian untuk mengevaluasi perjalanan organisasi.

Sebab, usia yang panjang tidak dengan sendirinya menjadi ukuran keberhasilan. Sebuah organisasi dapat bertahan selama puluhan tahun, tetapi belum tentu mampu menjalankan fungsi dan tanggung jawab sosialnya secara efektif.

Baca Juga  Selektif Hukum dan Birokrasi Bayangan di Sektor Agraria.

Di sinilah letak persoalan yang perlu kita renungkan bersama. Jangan sampai Makayoa hanya besar dalam nama dan sejarah, tetapi belum cukup kuat dalam karya dan pengabdian kepada masyarakat.

Sebuah organisasi kerukunan keluarga seharusnya tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan dan kesamaan identitas. Lebih dari itu, organisasi harus menjadi ruang tumbuhnya solidaritas, tempat masyarakat memperoleh perhatian ketika menghadapi kesulitan, tempat generasi muda menemukan kesempatan untuk berkembang, serta tempat berbagai potensi masyarakat dihimpun untuk kepentingan bersama.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *