Menurut Jacob, cara ini bisa menghemat banyak pos anggaran yang selama ini “bocor.
Contoh: dari alokasi Rp15.000 per porsi, jika disalurkan tunai bisa dipotong Rp3.000 untuk biaya operasional. Sisa Rp12.000 bisa maksimal dipakai untuk membeli bahan makanan sesuai standar.
Penghematan juga terjadi di:
– Dapur umum dan operasional pusat
– Transportasi pengantar makanan
– Peralatan makan: ompreng, sendok, tempat minum yang bisa dibawa dan dicuci sendiri dari rumah
– Petugas lapangan dan pengontrol
“Risiko makanan ditolak karena tidak cocok selera juga hilang. Risiko keracunan massal juga bisa ditekan,” tegasnya.
Latar Belakang: MBG Sudah “Gagal” dan Bikin Resah
Usulan ini muncul setelah Menko Pangan Zulkifli Hasan mengakui dalam Seminar Koperasi Desa Merah Putih di Bandar Lampung, Jumat (4/9/2026) bahwa *pelaksanaan MBG selama ini telah gagal sebagai program unggulan.
Keresahan publik memuncak setelah muncul laporan keracunan di berbagai daerah. BGN bahkan sudah membekukan operasional sejumlah dapur umum bermasalah. Namun korban dengan gangguan kesehatan berkelanjutan belum jelas penanganannya.
“Lembaga kemanusiaan dunia sudah mendesak agar MBG dihentikan sementara karena jadi ancaman bagi kelangsungan hidup manusia,” kata Jacob.
Kritik: Jangan Jadikan MBG “Proyek Bagi-bagi”














Komentar