oleh

GURUH DAN SWARA YANG TAK PERNAH PADAM


 

– Mengenang Putra Bung Karno dan Sang Maestro Kebudayaan (1953–2026)

​Oleh: M. Guntur Alting
—
​TIBA-TIBA saja berita itu datang. Guruh Soekarnoputra dipanggil Yang Maha Kuasa.

Banyak yang kaget, banyak yang berduka, terutama warga banteng. PDIP kehilangan salah satu pejuang partai dan sosok “Marhaenis” sejati.

Baca Juga  CATATAN KRITIS MUSLIM ARBI ! MENGUAK SISI LAIN Tak Seindah di TikTok: Membongkar Topeng Empati Gubernur Sherly Tjoanda di Balik Tragedi Bella 72

​Tapi bagi saya, Guruh itu sosok yang unik. ​Ia putra Proklamator, anak bungsu Bung Karno dan Ibu Fatmawati. Lahir dari keluarga yang menentukan jalan sejarah bangsa ini.

Kalau mau, Guruh bisa saja memilih jalur politik yang garang. Jadi ketua partai, berburu jabatan menteri, atau sibuk manuver di panggung kekuasaan.

​Tapi Guruh tidak memilih jalan itu.
​Ia memilih jalan budaya. Jalan yang sering dianggap sepi oleh para politisi, tapi justru paling membekas di hati rakyat.

Baca Juga  Catatan kecil dari Tepian Kali Brantas — Susanah si Pengupas Bawang. Bagian dari Desain mengacaukan situasi?

-000-

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *