oleh

“Dana Nganggur Rp1,2 Triliun, Tapi Drama Gub Sherly di Senayan”, Pengamat: Ini Bukan Soal Tidak Ada Uang, Tapi Soal Prioritas dan Etika Pemerintahan

-HEADLINE-330 Dilihat

3.Inefisiensi Struktural : SiLPA sebesar Rp881 Miliar mengindikasikan rendahnya kemampuan perencanaan dan eksekusi belanja. “Efisiensi pusat tidak bisa jadi kambing hitam kalau serapan di daerah sendiri lemah,” ujarnya.

Inti Masalah: Prioritas, Bukan Absennya Dana

Kedua narasumber sepakat, narasi “tidak ada uang” menjadi bias ketika faktanya ada likuiditas besar yang tidak dimanfaatkan.

Baca Juga  Bos Malut Institute: Maluku Utara Kaya Raya tapi Rakyat Dicekik Pajak, Pemerintah Langgar Konstitusi

“Pemerintah pusat sudah mentransfer dana. Tugas daerah adalah membelanjakannya secara tepat, cepat, dan akuntabel untuk pelayanan. Menggunakan forum DPR RI untuk menyerang pusat, sementara kas daerah menganggur, adalah kekeliruan tata kelola,” kata Muslim Arbi.

Dr. Sofyan menambahkan, “Ini preseden buruk. Jika dibiarkan, daerah lain bisa meniru pola: menumpuk dana, lalu menyalahkan pusat. Padahal amanat otonomi daerah adalah kemandirian mengelola, bukan mencari panggung konflik.”

Baca Juga  CATATAN USSER ! World Cup 2026: Antara “Pildunnya Trump” di AS dan “Kampung Pildunnya H.Ical di Fort Orange

Uji Tata Kelola, Bukan Uji Panggung Politik

Kasus Maluku Utara menjadi catatan penting bagi studi otonomi daerah. Efisiensi anggaran nasional memang menuntut disiplin. Tapi disiplin itu harus dimulai dari dalam.

Dengan Rp1,2 triliun mengendap, publik berhak bertanya: apakah ini krisis uang, atau krisis kepemimpinan dalam membelanjakan uang rakyat?

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *