Regulasi panjang membuka celah *korupsi dan ekonomi rente*. Ditambah *biaya logistik mahal* dan harga energi industri tidak kompetitif.
Hasilnya: barang made in Indonesia kalah saing sebelum diproduksi.
3. Kinerja Ekspor Tertinggal Jauh
Total nilai perdagangan Vietnam sudah *2 kali lipat Indonesia.
Karena itu Vietnam bisa tumbuh 7-8% dengan memanfaatkan relokasi pabrik dari Tiongkok. Sementara Indonesia masih terjebak di “kutukan” pertumbuhan 5%.
“Fundamental kita tidak jelek. Cadangan devisa kita jauh lebih tangguh dari Vietnam. Penyakitnya ada di dalam tubuh birokrasi sendiri,” tegas Prof. Didik.
2. JAWABAN PEMERINTAH: GEBRAKAN “WAR ROOM” PRESIDEN PRABOWO
Melihat target pertumbuhan 8% tidak bisa dicapai hanya dari belanja pemerintah dan konsumsi, Presiden Prabowo Subianto* meluncurkan reformasi struktural dengan gaya “War Room” – kendali langsung dari puncak.
Selain PFI, sistem ekspor satu pintu, dan penyitaan aset koruptor masif, ada 5 gebrakan kunci:
1. Satgas Khusus Deregulasi
Tugasnya memangkas ribuan regulasi dan perizinan. Memotong jalur birokrasi dan menyelaraskan aturan pusat-daerah demi kepastian hukum cepat*.
2. Konsolidasi & Pemangkasan BUMN
Ratusan anak-cucu BUMN yang tidak efisien direstrukturisasi. Tujuannya: BUMN kembali ke fungsi strategis, dan memberi ruang kompetisi sehat bagi swasta.













Komentar