oleh

ANALISIS EKONOMI : PMA RI Kalah Telak dari Vietnam & Malaysia: “Bukan Soal Pasar, Tapi Soal Birokrasi”, Kebijakan Prabowo Jadi Penawar

-Jakarta-1047 Dilihat

Regulasi panjang membuka celah *korupsi dan ekonomi rente*. Ditambah *biaya logistik mahal* dan harga energi industri tidak kompetitif.
Hasilnya: barang made in Indonesia kalah saing sebelum diproduksi.

3. Kinerja Ekspor Tertinggal Jauh

Total nilai perdagangan Vietnam sudah *2 kali lipat Indonesia.
Karena itu Vietnam bisa tumbuh 7-8% dengan memanfaatkan relokasi pabrik dari Tiongkok. Sementara Indonesia masih terjebak di “kutukan” pertumbuhan 5%.

Baca Juga  MENJELANG PELANTIKAN KETUM IKA USAKTI: ALUMNI UNIVERSITAS TRISAKTI WAJIB BERKONTRIBUSI NYATA BAGI BANGSA

“Fundamental kita tidak jelek. Cadangan devisa kita jauh lebih tangguh dari Vietnam. Penyakitnya ada di dalam tubuh birokrasi sendiri,” tegas Prof. Didik.

2. JAWABAN PEMERINTAH: GEBRAKAN “WAR ROOM” PRESIDEN PRABOWO

Melihat target pertumbuhan 8% tidak bisa dicapai hanya dari belanja pemerintah dan konsumsi, Presiden Prabowo Subianto* meluncurkan reformasi struktural dengan gaya “War Room” – kendali langsung dari puncak.

Baca Juga  Sah! Boy Nanang Wahyudi, SH Terima Mandat Ketua BPD KAPMI Kalbar dari Ketum Muliansyah Abdurrahman

Selain PFI, sistem ekspor satu pintu, dan penyitaan aset koruptor masif, ada 5 gebrakan kunci:

1. Satgas Khusus Deregulasi

Tugasnya memangkas ribuan regulasi dan perizinan. Memotong jalur birokrasi dan menyelaraskan aturan pusat-daerah demi kepastian hukum cepat*.

2. Konsolidasi & Pemangkasan BUMN

Ratusan anak-cucu BUMN yang tidak efisien direstrukturisasi. Tujuannya: BUMN kembali ke fungsi strategis, dan memberi ruang kompetisi sehat bagi swasta.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *