Agaknya, karena itulah Imam Prasojo tampil sebagai nara sumber dengan “mengklaim” Asrul Sani sebagai seniman, budayawan atau pekerja budaya sebagai sosok yang kaya karena memiliki Mutiara (Sarumpaet) yang berbobot tidak kurang dari 50 kilogram itu. Klaim yang bersifat “sanepo” ini keruan saja membuat peserta seminar terpingkal-pingkal karena Mutiara Sarumpaet yang dimiliki Asrul Sani itu adalah “sang istri” yang memang bernama Mutiara.
Gagasan cemerlang Prof. Imam Prasojo, tentu saja mendapat sambutan dan dukungan positif dari peserta seminar yang umumnya adalah seniman, budayawan, penulis dan pekerja kreatif lainnya yang selama ini tidak mendapat perhatian dari pemerintah.
Gagasan Prof. Imam Prasojo pun secara terang benderang mengungkapkan profesinya sebagai dosen yang merasa begitu rendah penghargaan dalam bentuk gaji yang tidak memadai untuk memenuhi keperluan hidup layak. “Kalau pun tetap bisa bertahan, karena mendapat berbagai tunjangan. Dan realitasnya tidak sedikit kawan-kawan dosen pun yang bekerja ekstra keras, merangkap kerja sebagai pengajar di berbagai universitas atau menekuni pekerjaan lain hanya untuk mencukupi kebutuhan ekonomi yang pas-pasan”, ujarnya.
Gagasan genial para seniman, budayawan, kaum intelektual serta penulis Indonesia bukan tidak pernah dilontarkan. Setidaknya sudah beberapa kali dilontarkan (Baca : Jacob Ereste), agar pemerintah menyisihkan semacam dana abadi seperti yang telah dilakukan berbagai negara yang lebih beradab untuk menghargai kerja kreatif yang keras dari para anak bangsa untuk ikut mempercepat laju kemajuan segenap warga bangsa untuk terbebas kemiskinan dan kebodohan seperti yang telah diamanahkan oleh UUD 1945.













Komentar