oleh

CATATAN USSER ! World Cup 2026: Antara “Pildunnya Trump” di AS dan “Kampung Pildunnya H.Ical di Fort Orange

-HEADLINE-1121 Dilihat

Nah, kalau “Pildunnya Trump” megah di seberang samudra, “Kampung Pildunnya RM” justru lebih ngena di hati. Lokasinya di Benteng Orange, Fort Orange, Kelurahan Gamalama. Benteng peninggalan Belanda yang dulu tempat Laskar Kie Raha ngusir kolonial, sekarang disulap Dr. H. Rizal Marsaoly, Sekda Kota Ternate, jadi arena nonton bareng Piala Dunia.

Konsepnya pisau bermata dua, tapi tajamnya ke arah positif:
1. Tertib : Daripada nonton di jalan sambil teriak “Offsideee!!” terus kena tilang, mending kumpul rapi di benteng. Adrenalin tersalurkan, jalanan tetap aman.
2. UMKM naik kelas : Begitu Vini Jr. nendang bola, mistar kena “ting!”… langsung teriak panik seisi benteng. Daripada asam lambung naik, mending pesen “Bibi Nasi Kuning 10.000 saja e satu porsi”. Begitu Messi freekick melengkung, yang melengkung bukan cuma bolanya, tapi juga antrian bakso di tenda UMKM.

Baca Juga  LIRA MALUT DESAK DPRD TOLAK USULAN PINJAMAN RP1 TRILIUN PEMPROV

Belum ada BPS yang ngitung dampak ekonominya. Tapi lihat aja: tenda gorengan ludes sebelum babak kedua, tukang kopi keliling senyum-senyum bawa pulang cuan. Fort Orange berubah jadi “Wall Street” versi Ternate tiap match day.

1. Semangat yang Sama, Medan Berbeda

Lucunya, vibes-nya mirip. Dulu Laskar Kie Raha nyerbu benteng ini buat rebut kemerdekaan dari Belanda. Sekarang, para punggawa Brazil nyerbu gawang lawan buat rebut Piala Dunia ke-6. Sama-sama perjuangan, sama-sama keringat, sama-sama bikin deg-degan.

Baca Juga  KEHADIRAN ABJAN SOFYAN DI FORUM BANGGAR DAN TAPD TUAI PERTANYAAN: "APA JABATANNYA?"

Bedanya: dulu yang dilempar meriam, sekarang yang dilempar teriakan “Wasiiittt!!”. Dulu yang jatuh korban jiwa, sekarang yang jatuh korban nasi kuning tumpah karena selebrasi gol.

Penutup: Piala Dunia Punya Dua Wajah

World Cup 2026 ngajarin kita satu hal: bola itu universal. Di AS ada kemegahan “Pildunnya Trump”. Di Ternate ada kehangatan “Kampung Pildunnya H.Ical” di Fort Orange.

Satu pakai dolar, satu pakai receh. Satu pakai drone, satu pakai toa masjid buat ngumumin “Babak kedua dimulai!”. Tapi euforianya sama. Deg-degannya sama. Bahagianya kalau tim Asia-Afrika bikin gol, terus satu benteng teriak bareng — itu nggak bisa dibeli pakai dolar.

Baca Juga  “DIDUGA ADA POLA PEMBOHONGAN ANGGARAN ” EKONOM UMMU SOROT SALDO KAS PEMPROV MALUT RP695,77 MILIAR

Jadi kalau ada yang tanya “lebih seru nonton di stadion AS atau di Fort Orange?”, jawabannya gampang:

Kalau mau foto buat Instagram, ke AS. Kalau mau rasa, ke Fort Orange. Di sana, tiap gol bukan cuma angka di papan skor. Tapi juga rezeki buat Bibi Nasi Kuning, senyum buat anak-anak, dan semangat Kie Raha yang hidup lagi.

Piala Dunia memang virus. Dan virus paling menular tahun ini namanya: Euforia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *