oleh

SOFIFI HALMAHERA METROPOLITAN: JEJAK VISI DAN JANJI POLITIK YANG TERLUPAKAN

Pasar elektoral Maluku Utara unik. 1,3 juta jiwa tersebar di 69 pulau berpenghuni, dipisahkan laut, sejarah, etnis, agama, dan pengalaman pembangunan yang tidak sama. Dalam Pilkada 2024, Benny Laos dan Sarbin Sehe menawarkan jalan berbeda. Mereka tidak sekadar menjual status Sofifi sebagai Daerah Otonomi Baru atau Kawasan Khusus. Mereka membangun imajinasi: *Sofifi sebagai pusat peradaban baru Kie Raha*.

Gagasan ini lahir dari kebutuhan merangkai ulang Maluku Utara pascakonflik 1999 dan pascahilirisasi. Konflik telah mengubah pola permukiman menjadi lebih homogen berdasarkan agama dan subetnis. Jarak sosial itu belum hilang. Ia hanya tidak terlihat. Dan jarak sosial, bila tidak diatasi dengan desain perjumpaan, akan menjadi bom waktu.

Baca Juga  Refleksi Hardiknas : ​EDUCERE :--Menuntun Keluar atau Menjinakkan?

Sofifi seharusnya menjadi ruang perjumpaan itu. Satu kampung besar keberagaman. Tempat orang Ternate, Tidore, Halmahera, Morotai, Bacan, Sula, Taliabu, Makian, Kayoa, Obi, Patani, Weda, Maba, Tobelo, Galela, Gane merasa memiliki rumah bersama. Bukan kota kantor yang hanya hidup saat jam birokrasi.

Ilusi Pertumbuhan di Antara Pulau

Hilirisasi membuat Maluku Utara terlihat melompat dari agraris ke industri. PDRB naik, investasi masuk, provinsi menjadi bintang ekonomi nasional. Tapi ilusi terjadi karena pertumbuhan dicatat secara administratif, sementara warga mengalaminya secara geografis.

Baca Juga  ISU PELENGSERAN PRABOWO ILUSI PARA PENGKHIANAT BANGSA DAN NEGARA.

Mesin pertumbuhan terpusat di Halmahera. Sementara warga tersebar di pulau-pulau. Dari 69 pulau berpenghuni, hanya tujuh yang layak jadi pusat layanan: Halmahera, Morotai, Ternate, Tidore, Bacan, Sanana, Taliabu. Sisanya menghadapi keterisolasian. Ada 23 pulau dengan karakter satu desa satu pulau. Membagi proyek merata di atas kertas tidak sama dengan adil di lapangan.

Struktur wilayah yang terpisah laut membuat manfaat pertumbuhan tidak bergerak mengikuti sebaran penduduk. Yang dekat industri dapat peluang. Yang tinggal di pulau kecil tetap tercekik biaya logistik, sekolah terbatas, layanan kesehatan minim, dan lapangan kerja langka.

Baca Juga  DI ANTARA GURU DAN MURID PENDIDIKAN YANG SALING MEMBASKAN

Sofifi sebagai Episentrum

Sofifi terletak di Halmahera, pulau terbesar sekaligus pusat mesin pertumbuhan baru. Di sekitarnya ada Lelilef, Maba, Gosowong sebagai pusat industri. Ternate tetap kota jasa dan perdagangan. Halmahera Barat punya potensi pertanian dan pangan.

Sofifi berada di posisi yang bisa mengikat semuanya: industri, jasa, pertanian, pendidikan, kesehatan, dan permukiman produktif. Ia bukan sekadar ibu kota administratif. Ia adalah episentrum yang bisa menggerakkan seluruh agenda pembangunan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *