Nasionalisme yang sejati bukanlah jargon yang diteriakkan setiap 17 Agustus. Ia adalah sikap dan sifat untuk tidak menggadaikan bangsa kepada mereka yang hanya mencari untung pribadi. Ia adalah kesetiaan warga terhadap negaranya, dan kesetiaan negara terhadap warganya. Tanpa itu, kebangkitan nasional hanya menjadi seremoni tahunan yang kosong.
Masalahnya, kita sering berhenti pada perayaan. Bendera dikibarkan, upacara digelar, pidato dibacakan. Tapi di lapangan, praktiknya berbeda. Korupsi masih merajalela, kepentingan kelompok mengalahkan kepentingan bangsa, dan pelayanan publik jauh dari kata adil.
Padahal, cinta pada bangsa tidak perlu diserukan dengan lantang. Cukup diwujudkan. Seorang guru yang mengajar dengan sepenuh hati, seorang perawat yang merawat pasien tanpa pandang bulu, seorang pejabat yang tidak menyelewengkan anggaran—mereka semua sedang mempraktikkan nasionalisme nyata. Mereka adalah stir man dan stir girl yang tetap memegang kemudi ketika kapal negara diterpa badai.
Kebangkitan nasional tidak akan terjadi jika kita hanya mengenang masa lalu. Ia hanya akan terjadi jika setiap warga memilih untuk setia pada perannya hari ini: bekerja jujur, melayani tulus, dan menjaga amanah bersama.














Komentar