oleh

DI BUMI FAGOGORU, KITA MENENUN DAMAI Di ATAS RETAKAN HATI

Jika kita bicara tentang Halmahera Tengah, kita bicara tentang filosofi Fagogoru. Itu adalah tentang rasa malu, rasa memiliki, dan rasa kasih sayang antar sesama.

Konflik Banemo-Sibenpopo ini sebenarnya sedang menguji, sejauh mana filosofi itu masih mendarah daging di tengah serbuan arus modernitas dan teknologi.

Negara boleh datang dengan barikade dan ancaman penjara. Itu perlu untuk ketertiban.

Baca Juga  DUNIA DI BALIK AKRONIM -- Dari MBS, MBZ, MBG Timur-Tengah hingga MBG Indonesia

Tapi perdamaian yang hakiki harus tumbuh dari kesadaran warga sendiri. Bahwa sekali kita tersulut provokasi, yang terbakar bukan hanya rumah tetangga, tapi juga masa depan anak-anak kita.

Saya membayangkan, daripada membagikan “video kemarahan,” alangkah indahnya jika warganet Maluku Utara mulai membagikan “cerita-cerita tentang persaudaraan” yang melampaui batas desa

Kita butuh narasi tanding. Kita butuh “pembasuh luka” digital untuk mendinginkan suasana.

Baca Juga  BOHONGI IRAN, PERAS ARAB, DAN GONCANGAN DI AS DAN ISRAEL

–000–

Catatan Akhir

Mungkin benar kata orang bijak, bahwa kedamaian itu bukan ketiadaan konflik, melainkan kemampuan kita untuk menyelesaikannya tanpa kekerasan.

Di Patani Barat, hari ini kita diingatkan kembali: betapa mahalnya harga sebuah ketenangan.

Mari kita berikan ruang bagi penegak hukum untuk bekerja secara adil. Namun yang lebih penting, mari kita berikan ruang bagi hati nurani kita untuk bertanya: Sampai kapan kita mau terus mengulang narasi kebencian yang sama?

Baca Juga  Sekenario mengepung Iran Sedang Berjalan

“Tanah Halmahera itu terlalu indah untuk dinodai oleh darah saudaranya sendiri.”

Di bawah langit Patani, mari kita belajar lagi untuk saling memanusiakan. Sebab, di atas segalanya, kita adalah sesama pengembara di bumi yang sama.(***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *