Iran adalah negara yang berdiri di atas bangsa Persi. Ribuan tahun bangsa Persi memiliki peradaban besar. Persi pernah menjadi adidaya dunia bersaing dengan Romawi. Modal inilah yang membuat Iran solid, militan, mandiri dan punya kepercayaan diri yang tinggi. Kenyataannya, 47 tahun Iran diembargo, masyarakatnya tetap sejahtera. Negara tetap mampu berkembang, terutama dalam teknologi alutsista yang jauh melampaui negara-negara kawasan.
Meski pimpinan utamanya terbunuh, Iran menunjukkan eksistensinya. Iran cukup kuat dalam memberikan perlawanan. Sejumlah negara teluk yang selama ini dijadikan landasan militer untuk menyerang Iran, saat ini terjadi sebaliknya. Mereka menjadi sasaran serang bagi rudal Iran.
Inilah konsekuensi perang. Negara-negara teluk itu menjadi sasaran yang sah, legal dan halal bagi Iran. Terutama yang dianggap memberikan dukungan terhadap militer Amerika.
Pasca penyerangan oleh Iran, atas nama tetangga kawasan dan satu agama, negara-negara teluk ini memperingatkan Iran. Disini, ada yang terasa ganjil. Yang mulai menyerang Amerika dengan menggunakan pangkalan negara-negra teluk, mengapa yang diperingatkan Iran? Kenapa bukan Amerika?
Atas nama kawasan, apalagi Islam sungguh amat sangat tidak relevan. Jika dari pangkalan mereka, Ayatollah Ali Khemrini terbunuh dalam penyerangan, tidakkah adil jika berlaku hukum sebaliknya.
Negara-negara teluk terlihat sekali “ketakutannya” kepada Amerika. Abai dan tidak peduli terhadap nasib Iran. Inikah logika tetangga, kawasan dan satu agama?
Menggunakan narasi agama untuk membujuk Iran merupakan suatu alasan yang tidak relevan. Begitu juga menggunakan isu kawasan. Justru kawasan teluk, karena dekat dengan Iran, dipakai untuk menyerang Iran. Kawasan teluk menjadi kawasan yang negatif dan kontra-produktif bagi Iran.
Mengapa negara-negara teluk takut kepada Amerika?






Komentar