Negara-negara teluk adalah negara-negara yang dikelola dengan sistem monarki. Berhadapan dengan Amerika, ancaman transformasi dari monarki ke demokrasi di depan mata. Para elit di negara teluk tentu tidak ingin kehilangan kekuasaannya. Untuk mempertahankan sistem monarki yang telah puluhan tahun memberinya kekuasaan, maka apapun akan dipertaruhkan demi kelanggengan sistem monarki tetsebut. Negara teluk bisa mempertahankan kekuasaan berbasis monarki dan tidak mendapatkan gangguan jika bersedia untuk beradaptasi terhadap kepentingan Amerika. Termasuk diantaranya menyiapkan basis militer yang sewaktu-waktu digunakan untuk landasan menyerang negara kawasan teluk yang menentang Amerika. Saat ini, Iran menjadi sasarannya.
Dengan militer di teluk, Amerika akan mengontrol negara-negara di kawasan Timur Tengah. Selain untuk melakukan hegemoni politik, juga untuk menguasai minyak di teluk.
Atas landasan serang yang disipakan oleh megara-negara teluk, Iran melakukan balasan. Landasan itu adalah wilayah yang sah untuk menjadi sasaran. Uniknya, ketika Iran membalas, mereka mengeluh dan meminta Iran mengakhiri serangannya. Sikap negara-negara teluk ini layaknya sikap pengecut.
Setelah perang dimulai dan pimpinan tertinggi Iran terbunuh, lalu meminta Iran menerima dan perang diakhiri tanpa pertanggungjawaban. Masuk akal kah?
Pangkal problemnya bukan di Iran, tapi di negara-negara teluk itu. Negara-negara sumber minyak ini tersandera dengan sistem monarki yang rentan terancam oleh hegemoni demokrasi yang dikembangkan Barat. Sekali isu ini dimunculkan, maka raja-raja Saudi, Kuwait, Bahrain UEA dan Qatar bisa tumbang. Sampai kapan negara-negara teluk ini tersandera oleh Amerika? Apakah menunggu setelah Iran mengalahkan Amerika? Faktanya: negara-negara teluk itu mendukung Amerika, bahkan untuk menghancurkan Iran.
Dari fenomena terang benderang ini, masihkah relevan untuk menghubungkannya dengan suni dan syiah? Tidak ! Tidak ! Tidak ! Ini urusan kemanusiaan. Hak sebuah bangsa untuk merdeka dan setara. Bukan urusan sekte !
Jakarta, 22 Maret 2026






Komentar