Di sisi lain, tak ada satupun negara yang punya nyali dan kemampuan menahan serangan Amerika dan Israel ke Iran yang menjadi penyebab perang yang mengakibatkan selat hormuz diblokade. Sebuah konsekuensi serangan yang mungkin tak pernah diprediksi bahkan oleh Amerika sendiri. Perang yang disekenariokan berakhir tiga hari, ternyata berdirasi panjang. Bahkan bisa sampai enam bulan atau lebih.
Perang teluk telah meledak. Dimulai tanggal 28 Pebruari lalu. Perang telah membawa kematian tidak saja tentara, tapi korban terbanyak adalah masyarakat sipil. Begitulah yang terjadi di setiap ada perang. Rakyat jadi korban. Pelaku perang tak pernah peduli dan jauh dari kata empati. Perang itu urusan politik, kekuasaan dan uang. Mengabaikan segala bentuk penderitaan rakyat.
Pasca penyerangan oleh Amerika dan Israel, Iran bersumpah: akan memberi balasan yang menyakitkan. Iran berniat membuat perang dalam durasi yang lebih panjang. Bagi Iran, ini bukan saja soal menang atau kalah, tapi ini soal harga diri bangsa Persi dan masa depan negara berpenduduk Syiah ini. Bagi Iran, perang ini adalah momentum untuk mengkhiri dominasi, bahkan penjajahan Amerika dan Israel di wilayah teluk. Dari perang ini, geopolitik dan tatanan dunia diharapkan berubah.
Iran siap berperang hingga lebih dari enam bulan kedepan. Jika langkah dan pilihan strategi ini benar-benar berjalan sesuai rencana, maka ini berpotensi membuat banyak negara tumbang.
Semua dimulai dari Selat Hormuz. Dari sini krisis energi terjadi. Semua negara terdampak. Rakyat marah dan yang mereka salahkan adalah para pemimpin negara. Para pemimpin dianggap tidak bisa menjamin kebutuhan dan hajat hidup rakyatnya.
Setelah konflik teluk pecah, Indonesia menetapkan Siaga 1. Tidak hanya Indonesia, para pemimpin negara yang punya ketergantungan minyak dari teluk semua mengalami depresi. Termasuk Amerika sendiri, juga negara-negara yang bergabung dalam NATO.
Situasi ini tidak hanya dialami oleh negara pengekspor minyak. Hal yang sama juga akan dialami oleh negara suplayer minyak. Seperti Saudi, Kuwait, Qatar, Dubai, UEA dan Bahrain, negara-negara kaya minyak ini juga berpotensi ikut collaps. Negara teluk selama ini bergantung hidupnya dari penjualan minyak. Ketika minyak tidak bisa dijual, negara-negara penghasil minyak ini juga akan terkapar.






Komentar