Jika Iran bisa bertahan saja dari gempuran Amerika dan Israel, serta mampu terus menutup selat Hormuz hingga enam bulan kedepan, kemungkinan kita akan menjadi saksi terhadap adanya ledakan politik di banyak negara. Kita akan menyaksikan sejumlah pemimpin negara yang tumbang. Baik pemimpin negara pengimpor minyak maupun negara ekportir.
Bagi negara-negara teluk, risikonya bisa lebih besar lagi. Bukan hanya para pemimpin yang jatuh karena krisis ekonomi. Bisa jadi, situasi ini akan mendorong perubahan yang lebih fundamental yaitu perubahan sistem ketatanegaraan. Ledakan politik negara teluk dapat mendesak terjadinya perubahan total dari sistem kerajaan ke sistem demokrasi.
Kembali ke Selat Hormuz. Iran memberi dua klausul bagi negara yang ingin kapal tankernya melewati Selat Hormuz. Pertama, mengusir duta besar Amerika dan Israel dari negaranya. Kedua, mereka bersedia untuk bertransaksi dengan menggunakan mata uang Yuan.
Dengan menutup Selat Hormuz, Iran memberi ruang bagi Rusia, mitra strategisnya untuk membuka pasar alternatif bagi kebutuhan minyak dunia. Sementara, klausul transaksi menggunakan Yuan akan memberi peluang terhadap China, mitra strategis Iran lainnya untuk menyaingi dominasi dolar Amerika.
Menutup Selat Hormuz dengan dua klausul di atas merupakan strategi cerdas Iran yang multi fungsi. Pertama, langkah Iran ini akan mendorong negara-negara yang krisis energi ini untuk bersitegang dengan Amerika dan Israel. Kedua, Iran memberi keuntungan bagi dua mitra strategisnya yaitu Rusia dan China. Ini sekaligus menjadi langkah konsolidasi strategik yang efektif dalam menghadapi dominasi Amerika dan Israel. Jika langkah ini berhasil, maka tatanan dunia akan berubah.
16 Maret 2026






Komentar