oleh

IRAN, “BATU SANDUNGAN” BERAT BUAT DINASTI ROTHSCHILD

 

Oleh: Said Muniruddin | RECTOR | The Suficemic
(Versi Bumbu Dapur + Analisis Kekinian)

Bismillahirrahmanirrahim.

Siap-siap! Kita masuk ke lapisan paling dalam dari konflik Timur Tengah yang lagi panas ini. Kalau lo kira perang cuma soal rudal dan drone, lo salah besar. Di balik asap mesiu dan puing-puing bangunan, ada permainan besar yang udah berlangsung berabad-abad. Dan Iran, ternyata jadi batu sandungan paling berat buat para pemain di balik layar itu.

👤*NAT ROTHSCHILD MULAI BUKA SUARA: “AYO PERANG TERUS!”*

Anda pada ingat Dinasti Rothschild? Keluarga bankir yang katanya selalu ada di balik peristiwa besar dunia. Zaman dulu mereka mainnya sembunyi-sembunyi, kalau ada perang, mereka di belakang layar. Tapi sekarang beda, bro. Mereka udah mulai muncul ke permukaan. Buktinya?

Nat Rothschild, yang kayak “juru bicara” keluarga itu, beberapa waktu lalu ngetweet di Platform X:

“History is written by the winners” — #IranRevolution2026 (28/2/2026).

Artinya: “Sejarah ditulis oleh para pemenang.” Pesannya jelas. Selama ini Barat selalu jadi pemenang, makanya narasi perang selalu mereka kendalikan. Tapi kalau Iran menang? Narasinya bakal berubah. Barat bakal jadi penjahat perang resmi.

Nggak cuma itu, dia juga ngetweet provokatif lain:

· “Where are the Iranian submarines?” — #IranWar (2/3/2026). (Ngajak pamer kekuatan laut?)
· “If regime change is the objective, has anyone actually thought through what happens next?” — #Iran (2/3/2026). (Ini kayak sinis, tapi sebenarnya dorong agar perang terus lanjut).

Baca Juga  Esai |Jejak Batin : MEMBASUH JIWA ANTARA GAMALAMA DAN LIMAU DUKO

Semua tweet ini ujung-ujungnya sama: “Ayo terus berperang, jangan berhenti!”

💰 *KENAPA ROTHSCHILD BUTUH PERANG?*

Gini, Bos. Lo bayangin bisnis apa yang paling menguntungkan sepanjang masa? Jawabannya: PERANG. Keluarga Rothschild itu dari dulu makmur karena perang. Coba lo liat sejarah:

· Perang Napoleon (1803–1815): Mereka danai Inggris, tapi juga punya koneksi ke Prancis. Dua pihak perang, mereka yang untung.

· Perang Dunia I & II: Sama lagi. Danai sekutu, danai juga (secara nggak langsung) lawan. Hasilnya: triliunan dolar masuk kantong.

· Perang modern: Dari Afghanistan, Irak, Libya, Suriah, Ukraina, sampai sekarang Iran. Polanya sama persis.

*Mereka menghasilkan uang dari DUA sisi:*

1. Saat perang: Jual senjata, biayai operasi militer, kuasai jalur minyak.

2. Saat damai: Bangun ulang negara yang hancur, kuasai kontrak rekonstruksi, jual lagi senjata buat “menjaga perdamaian”.

Lihat Gaza sekarang. Dihancurin habis-habisan. Terus ada proposal Trump buat bangun jadi resort wisata mewah. Warga Gaza direlokasi entah ke mana. Polanya jelas: hancurkan dulu, baru bangun buat cuan. Warga cuma jadi korban.

Nggak percaya? Cek aja daftar panjang “inisiasi” mereka lewat tangan Amerika:

El Salvador (1980), Libya (1981), Sinai (1982), Lebanon (1982–1983), Egypt (1983), Grenada (1983), Honduras (1983), Chad (1983), Persian Gulf (1984), Libya (1986), Bolivia (1986), Iran (1987), Persian Gulf (1987), Kuwait (1987), Iran (1988), Honduras (1988), Panama (1988), Libya (1989), Panama (1989), Colombia, Bolivia, and Peru (1989), Philippines (1989), Panama (1989–1990), Liberia (1990), Saudi Arabia (1990), Iraq (1991), Zaire (1991), Sierra Leone (1992), Somalia (1992), Bosnia-Herzegovina (1993–present), Macedonia (1993), Haiti (1994), Macedonia (1994), Bosnia (1995), Liberia (1996), Central African Republic (1996), Albania (1997), Congo/Gabon (1997), Sierra Leone (1997), Cambodia (1997), Iraq (1998), Guinea-Bissau (1998), Kenya/Tanzania (1998–1999), Afghanistan/Sudan (1998), Liberia (1998), East Timor (1999), Serbia (1999), Sierra Leone (2000), Yemen (2000), East Timor (2000), Afghanistan (2001–present), Yemen (2002), Philippines (2002), Côte d’Ivoire (2002), Iraq (2003–present), Liberia (2003), Georgia/Djibouti (2003), Haiti (2004), Georgia/Djibouti/Kenya/Ethiopia/Yemen/Eritrea (War on Terror, 2004), Pakistan drone attacks (2004–present), Somalia (2007), South Ossetia/Georgia (2008), Syria (2008), Yemen (2009 and 2015), Haiti (2010), Libya (2011), Syria (2011), Ukraina (2014), Iraq (2015), Palestina (sampai sekarang), dan lainnya.

Baca Juga  MAITARA: ANTARA IMAGINASI DAN REALITAS

Kemarin Venezuela (2026). Sekarang Iran (2026). Dua negara dalam satu tahun. Nggak ada istirahat buat mesin perang mereka.

🇮🇱 *ROTHSCHILD DAN ZIONISME: DUA SISI MATA UANG YANG SAMA*

Ini penting,Dinasti Rothschild itu bukan cuma bankir biasa. Mereka adalah arsitek utama berdirinya Israel.

· Baron James de Rothschild (1845–1934): Dialah yang merintis koloni Yahudi pertama di Palestina. Dia beli tanah, bangun pemukiman, jadi cikal bakal Israel.

· Lionel Walter Rothschild (1868–1937): Ini dia tokoh kunci di balik Deklarasi Balfour (1917). Dia yang lobi pemerintah Inggris buat kasih janji “tanah air bagi Yahudi” di Palestina.

Baca Juga  Negara-Negara Teluk Jangan Jadi Pengecut

Jadi, Israel itu bukan cuma negara biasa. Itu adalah proyek kolonial Rothschild di jantung dunia Islam. Dan mereka nggak akan berhenti sampai “Israel Raya” terwujud, dari Sungai Nil sampai Efrat.

Mereka juga kontrol Amerika lewat AIPAC (lobi Yahudi paling kuat di AS). Semua politisi AS, dari Demokrat sampai Republik, musti tunduk sama agenda “Israel First”. Makanya Imam Khomeini dulu nyebut Israel sebagai “kanker” di tengah dunia Arab. Karena kanker itu harus diangkat, bukan diajak kompromi.

*LALU, KENAPA HARUS IRAN?*

Nah, ini pertanyaan kuncinya. Dari sekian banyak negara Islam, kenapa Iran yang jadi target utama? Jawabannya kompleks, Bos:

1. Iran Nggak Tunduk sama Sistem Keuangan Rothschild

Ini yang paling penting. Iran adalah salah satu dari sedikit negara di dunia yang nggak punya utang ke IMF atau Bank Dunia. Sistem perbankan mereka berjalan di luar kendali bank sentral global yang dikontrol Rothschild. Mereka pake mata uang sendiri (Rial), nggak sepenuhnya tergantung dolar, dan punya cadangan emas yang cukup.

Coba anda liat, Mayer Amschel Rothschild (sang pendiri) dari tahun 1800-an udah kirim lima anaknya ke seluruh Eropa buat buka bank: Frankfurt (Jerman), London (Inggris), Paris (Prancis), Wina (Austria), Napoli (Italia). Sekarang, jaringan mereka udah menjalar ke seluruh dunia. Hampir semua bank sentral negara di dunia terkoneksi sama sistem mereka. Kecuali Iran (dan beberapa negara lain).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *